Minggu, 21 November 2010
MANAJEMEN WAKTU
Ada satu cerita sobatku…
Pada suatu hari seorang guru berada di kelas bersama siswa-siswanya:
“BAIKLAH, SEKARANG WAKTUNYA KUIS”, kemudian dia mengeluarkan TOPLES KACA berukuran galon yang bermulut cukup lebar, dan meletakannya di atas meja. Lalu ia juga mengelurkan sekitar selusin BATU BERUKURAN SEGENGAM TANGAN dan meletakan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples. Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia berkata “APAKAH TOPLES INI SUDAH PENUH?’
Semua siswanya serentak menjawab, “SUDAH!”
Kemudian dia berkata ”BENARKAH?”
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang KERIKIL. Lalu dia masukan kerikil-kerikil itu kedalam toples sambil menguncang sedikit-sedikit, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu-batu iru. Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali saja.
“APAKAH TOPLES INI SUDAH PENUH?” Kali ini para siswanya hampir tertegun.
“MUNGKIN BELUM!” salah satu di antara siswa menjawab.
“BAGUS!” jawabnya. Kembali dia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeranjang PASIR. Dia mulai memasukan pasir itu ke dalam toples dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di anatara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, “APAKAH TOPLES INI SUDAH PENUH?”
“BELUM!” Serentak siswanya menjawab.
Sekali ia berkata, “BAGUS!”
Lalu ia mengambil sebotol AIR dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples terisi penuh hingga ke ujung atas.
Lalu si guru memandang kepada seluruh siswanya dan bertanya, “APAKAH MAKSUD DARI ILUSTRASI INI?”. Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, “MAKSUDNYA, BETAPAPUN PENUHNYA JADWALMU, JIKA KAMU BERUSAHA KAMU MASIH DAPAT MENYISIPKAN JAEWAL LAIN KE DALAMNYA!”
“BUKAN!” jawa si guru. “bukan itu maksudnya, sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa:
“JIKA BUKAN BATU BESAR YG PERTAMA KAMU MASUKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TPLES TERSEBUT”
“APAKAHA BATU BESAR DALAM HIDUPMU? MUNGKIN ANAK-ANAK, SUAMI/ISTRIMU, ORANG-ORANG YG KAMU SAYANGI, PERSAHABATN, KESEHATANMU, MIMPI-MIMPIMU. HAL YG KAMU ANGGAP PALING BERHARGA DALAM HIDUPMU. INGATLAH UNTUK SELALU MELETAKAN BATU-BATU BESAR TERSEBUT SEBAGAI YG PERTAMA, ATAU KAMU TIDAK AKAN PERNAH PUNYA WAKTU UTK MEMPERHATIKANNYA. JIKA KAMU MENDAHULUKAN HAL-HAL YG KECIL DLM PERIORITAS WAKTUMU, MAKA KAMU HANYA MEMENUHI HIDUPMU DENGAN HAL-HAL YG KECIL-KECIL. KAMU TIDAK AKAN PUNYA WAKTU UNTUK MELAKUKAN HAL YG BESAR DAN BERHARGA DALM HIDUPMU.
So, keep spirit,pa pun masaknna minumna teh btol sosro, :-)
Bukit Sekaran, 16 Okt 2010
saelingua@rocketmail.com
Pada suatu hari seorang guru berada di kelas bersama siswa-siswanya:
“BAIKLAH, SEKARANG WAKTUNYA KUIS”, kemudian dia mengeluarkan TOPLES KACA berukuran galon yang bermulut cukup lebar, dan meletakannya di atas meja. Lalu ia juga mengelurkan sekitar selusin BATU BERUKURAN SEGENGAM TANGAN dan meletakan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples. Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia berkata “APAKAH TOPLES INI SUDAH PENUH?’
Semua siswanya serentak menjawab, “SUDAH!”
Kemudian dia berkata ”BENARKAH?”
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang KERIKIL. Lalu dia masukan kerikil-kerikil itu kedalam toples sambil menguncang sedikit-sedikit, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu-batu iru. Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali saja.
“APAKAH TOPLES INI SUDAH PENUH?” Kali ini para siswanya hampir tertegun.
“MUNGKIN BELUM!” salah satu di antara siswa menjawab.
“BAGUS!” jawabnya. Kembali dia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeranjang PASIR. Dia mulai memasukan pasir itu ke dalam toples dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di anatara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, “APAKAH TOPLES INI SUDAH PENUH?”
“BELUM!” Serentak siswanya menjawab.
Sekali ia berkata, “BAGUS!”
Lalu ia mengambil sebotol AIR dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples terisi penuh hingga ke ujung atas.
Lalu si guru memandang kepada seluruh siswanya dan bertanya, “APAKAH MAKSUD DARI ILUSTRASI INI?”. Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, “MAKSUDNYA, BETAPAPUN PENUHNYA JADWALMU, JIKA KAMU BERUSAHA KAMU MASIH DAPAT MENYISIPKAN JAEWAL LAIN KE DALAMNYA!”
“BUKAN!” jawa si guru. “bukan itu maksudnya, sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa:
“JIKA BUKAN BATU BESAR YG PERTAMA KAMU MASUKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TPLES TERSEBUT”
“APAKAHA BATU BESAR DALAM HIDUPMU? MUNGKIN ANAK-ANAK, SUAMI/ISTRIMU, ORANG-ORANG YG KAMU SAYANGI, PERSAHABATN, KESEHATANMU, MIMPI-MIMPIMU. HAL YG KAMU ANGGAP PALING BERHARGA DALAM HIDUPMU. INGATLAH UNTUK SELALU MELETAKAN BATU-BATU BESAR TERSEBUT SEBAGAI YG PERTAMA, ATAU KAMU TIDAK AKAN PERNAH PUNYA WAKTU UTK MEMPERHATIKANNYA. JIKA KAMU MENDAHULUKAN HAL-HAL YG KECIL DLM PERIORITAS WAKTUMU, MAKA KAMU HANYA MEMENUHI HIDUPMU DENGAN HAL-HAL YG KECIL-KECIL. KAMU TIDAK AKAN PUNYA WAKTU UNTUK MELAKUKAN HAL YG BESAR DAN BERHARGA DALM HIDUPMU.
So, keep spirit,pa pun masaknna minumna teh btol sosro, :-)
Bukit Sekaran, 16 Okt 2010
saelingua@rocketmail.com
Kamis, 15 Juli 2010
Jumat, 25 Juni 2010
Pasar Johar
Pasar Johar
Kepada pedagang pasar johar
Untuk pedagang
Jiwaku mengalirkan air mata
Mata tak kuasa mendegar suara
Kau bilang tanggung, itu saja.
Ucapan tiap waktu
Apa telinga tela tertutup
Lalu alang orang melintang
Dalam gang yang tak padang
Seperti perang menabuh gendering
Tak karuan terus membayang
Hingga waktu sembah pun hilang
Seiring larisnya barang dagang
Sampai kesiang lupa kancingnya
Tak pulang
Karena uang terus kurang
Kamu tak sayang?
Sungguh malang nasibmu
Hilang terbang melayang
Tak berbekas
Kepada pedagang pasar johar
Untuk pedagang
Jiwaku mengalirkan air mata
Mata tak kuasa mendegar suara
Kau bilang tanggung, itu saja.
Ucapan tiap waktu
Apa telinga tela tertutup
Lalu alang orang melintang
Dalam gang yang tak padang
Seperti perang menabuh gendering
Tak karuan terus membayang
Hingga waktu sembah pun hilang
Seiring larisnya barang dagang
Sampai kesiang lupa kancingnya
Tak pulang
Karena uang terus kurang
Kamu tak sayang?
Sungguh malang nasibmu
Hilang terbang melayang
Tak berbekas
Kamis, 17 Juni 2010
Selasa, 15 Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)

