Kamis, 03 Mei 2012

Malam Lebaran


Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan
                       Karya : Sitor Situmorang

Parafrase
Salah satu puisi yang paling banyak diperdebatkan maknanya adalah “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisinya cuma sebaris, “bulan di atas kuburan”. Pertama puisi itu sangat pendek. Kedua, malam lebaran yang berarti malam 1 Syawal, adalah saat di mana bulan sama sekali tidak kelihatan.

Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Kalau kita perhatikan dengan saksama, larik pendek itu tak bisa dipisahkan dari judulnya. Secara sederhana, puisi tersebut bisa kita parafrasekan menjadi : //Pada malam lebaran, ada rembulan di atas kuburan//.

Dalam penafsiran awam, setidaknya ada tiga frasa dan kata kunci yang hendak ditekankan oleh penyair kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu, yakni “malam lebaran”, “rembulan”, dan “di atas kuburan”. Dari sisi logika, larik puisi ini jelas absurd, mustahil, dan tak masuk akal. Rembulan tak mungkin muncul pada malam lebaran, bukan? Namun, sesungguhnya larik tersebut tak bisa hanya sebatas kita maknai secara harfiah. Ada nilai-nilai kehidupan yang serba kontradiktif yang hendak didedahkan sang penyair.

Dari sana, terjadilah kontroversi. Sitor dianggap tidak memahami penanggalan Islam. Meskipun dunia puisi mementingkan imajinasi, bagaimanapun, puisi tetap bertanggung jawab atas logika puisi itu sendiri. Fakta alam menyatakan, bahwa pada malam lebaran, bulan belum muncul. Oleh karena itu, pernyataan Malam Lebaran/ Bulan di atas kuburan, melanggar logika umum. Ia menyatakan sesuatu yang tak mungkin terjadi.

Dalam kasus puisi Malam Lebaran, latar belakang peristiwanya terjadi pada malam lebaran ketika Sitor hendak berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Ia lewat dekat kuburan. Jadilah kemudian ada “Malam Lebaran” dan “kuburan”. Di tangan penyair sekelas Sitor, peristiwa itu niscaya sangat menggoda dan menggelisahkannya. Dengan kepiawaiannya membangun simbolisme dan kekuatan menciptakan citraan, peristiwa itu mesti direkam dan dinyatakan menjadi sesuatu yang mempesona dan menakjubkan. Maka, untuk memperkuat kesan yang lebih dalam, diperlukan sebuah simbol yang dapat mendukung citraan yang mewartakan kesepian dan keterasingan sebagai pesannya. Dan kata bulan itulah pilihannya. Maka, lahirlah kemudian sebuah puisi pendek: Bulan di atas kuburan// Sebuah puisi yang memancarkan kekuatan citraan yang begitu hidup dan sekaligus juga menyimpan kekayaan simbolisme.

Lebaran adalah hari kemenangan, tetapi juga kekalahan; kekalahan bagi yang tak berhasil meningkatkan barang segaris kualitas kemanusiaannya, juga kekalahan bagi yang tak bisa membelikan barang sepotong baju baru untuk anaknya.

Hari kemenangan itu telah menjadi beban, karena terjadi pengeluaran besar-besaran. Ironis, ketika hari kemenangan justru disambut dengan kepanikan, kenaikan harga-harga barang, dan penambahan saldo utang.

Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa. Hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat “pembebasan” itu. Semua orang, apa pun pangkat dan kedudukannya, baju politik warna apa pun yang dipakai, atau status sosial keseharian apa pun yang disandangnya, (nyaris) semuanya tak melewatkan momentum yang sarat berkah dan maghfirah itu. Tak salah kalau Sitor Situmorang menggunakan kata simbolik “bulan” sebagai ikon kebahagiaan dan kemeriahan.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu. Mereka tak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan “memaksa” mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam “kamus” hidupnya. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu; tak ubahnya menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Tak salah juga kalau Sitor Situmorang menggunakan frasa “di atas kuburan”.

Begitulah, idealnya lebaran juga perlu dijadikan sebagai momentum untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Konon, di balik kekayaan dan penghasilan yang kita miliki ada hak juga bagi fakir miskin dan anak-anak telantar. Bahkan, mereka yang suka mengemplang dan mencuri harta rakyat dan negara, lebaran perlu dimaknai sebagai momentum pertobatan untuk mengembalikan kekayaan yang mereka peroleh secara tidak sah kepada negara, tanpa harus menunggu diserbu KPK. Cara semacam ini akan lebih terhormat daripada dipaksa harus memakai seragam koruptor versi KPK.

Segala hal telah berkiblat kepada kebendaan. Tak ada lagi yang peduli menyelami, apa yang semestinya terjadi di Idul Fitri. Apakah merenungi, menelanjangi jiwa sendiri, atau ke sana ke mari wara-wiri dengan baju baru dan gemerlap perhiasan warna-warni. Mengapa menjelang hari itu segalanya justru menjadi sesak; mall, pasar tradisional, toko sembako, seperti sesaknya dada si fakir yang tak tau harus membelanjakan apa menyambut hari raya, sesak pengap membekap, padahal namanya lebaran, bukan sempitan.

Bisa jadi, penafirsan “selengekan” semacam ini jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang. Namun, sebagai genre sastra, puisi yang multitafsir bisa dimaknai secara personal oleh apresiannya.

Mereka yang menganut paham naturalisme dan positivisme meyakini Sitor pasti telah melakukan kesalahan. Mana mungkin dia dapat melihat bulan pada malam lebaran? Bukankah pada malam itu bulan tidak dapat dilihat mata telanjang, sehingga para penentu saat akhir masa puasa harus menggunakan teropong untuk menentukan apakah bulan sudah muncul. Kesimpulannya: Sitor ngaco.

Lain lagi dengan pendapat kritikus yang menganut paham simbolik. Menurut mereka Sitor tidak melaporkan keadaan alam empirik lewat puisi itu. Benda-benda yang disebut dalam selarik puisi itu adalah simbol dari hal lain. Lantas, para penganut paham ini membuat penyejajaran antara malam dengan kuburan, serta Lebaran dengan bulan. Malam dan kuburan dianggap memiliki kesejajaran kualitas: gelap, hitam, kotor; sementara bulan dan lebaran berkonotasi pada: terang, putih, bersih. Dalam puisi tersebut kedua kualitas tersebut diperantarai oleh kata “di atas.” Dengan demikian, secara keseluruhan puisi Sitor yang paling ekonomis itu bermakna (dimaknai): terang (putih/bersih/suci) di atas (mengatasi) gelap (hitam/kotor/dosa).

Di tengah kontroversi tersebut, Sitor pun bercerita bahwa suatu malam ia berjalan kaki hendak menuju rumah Pramoedya Ananta Toer, dan ternyata ia tersesat. Di saat tersesat itu, ia melihat sebuah tembok putih. Ia penasaran; apa yang ada di balik tembok itu. Maka, Sitor pun lantas naik di atas batu di dekat tembok, dan melongok: “… Oo… kuburan.” Kemudian ia turun dan melanjutkan jalan kakinya mencari rumah Pram. Rupanya pengalaman menemukan tembok putih, melongok, dan melihat kuburan tersebut sangat membekas dalam diri Sitor, dan tidak dapat segera dilupakan. Ia kemudian mengekspresikan pengalaman itu dalam puisi sebarisnya yang telah menghebohkan banyak orang itu. Tidak dijelaskan, apakah peristiwa itu dialaminya pada malam lebaran atau malam-malam yang lain, tidak pula dijelaskan apakah malam itu dia melihat bulan.

@@@@

Entah, setiap kali menjelang lebaran, saya selalu diingatkan lirik Sitor Situmorang dalam puisinya “Malam Lebaran”. Puisinya hanya terdiri atas satu larik: “Bulan di atas kuburan”. Meski pendek, puisi ini menawarkan kandungan makna yang “liar” sekaligus juga imajinatif.

Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Meski demikian, saya tak ingin membedahnya dari sisi stylistika. Saya justru lebih tertarik untuk menelaahnya dari aspek muatan isi yang saya anggap “liar” dan imajinatif itu. Saya juga tak menggunakan pendekatan atau teori sastra tertentu, tetapi lebih pada upaya penafsiran dan pemaknaan dari sudut pandang pribadi saya sebagai seorang penikmat dan pencinta puisi yang ingin saya kaitkan dengan momentum lebaran yang sebentar lagi akan datang menjenguk kita.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, larik pendek itu tak bisa dipisahkan dari judulnya. Secara sederhana, puisi tersebut bisa kita parafrasekan menjadi : //Pada malam lebaran, ada rembulan di atas kuburan//.

Ya, ya, ya. Dalam penafsiran awam saya, setidaknya ada tiga frasa dan kata kunci yang hendak ditekankan oleh penyair kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu, yakni “malam lebaran”, “rembulan”, dan “di atas kuburan”. Dari sisi logika, larik puisi ini jelas absurd, mustahil, dan tak masuk akal. Rembulan tak mungkin muncul pada malam lebaran, bukan? Namun, sesungguhnya larik tersebut tak bisa hanya sebatas kita maknai secara harfiah. Ada nilai-nilai kehidupan yang serba kontradiktif yang hendak didedahkan sang penyair.

Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa. Hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat “pembebasan” itu. Semua orang, apa pun pangkat dan kedudukannya, baju politik warna apa pun yang dipakai, atau status sosial keseharian apa pun yang disandangnya, (nyaris) semuanya tak melewatkan momentum yang sarat berkah dan maghfirah itu. Tak salah kalau Sitor Situmorang menggunakan kata simbolik “bulan” sebagai ikon kebahagiaan dan kemeriahan.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu. Mereka tak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan “memaksa” mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam “kamus” hidupnya. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu; tak ubahnya menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Tak salah juga kalau Sitor Situmorang menggunakan frasa “di atas kuburan”.

Begitulah, idealnya lebaran juga perlu dijadikan sebagai momentum untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Konon, di balik kekayaan dan penghasilan yang kita miliki ada hak juga bagi fakir miskin dan anak-anak telantar. Bahkan, mereka yang suka mengemplang dan mencuri harta rakyat dan negara, lebaran perlu dimaknai sebagai momentum pertobatan untuk mengembalikan kekayaan yang mereka peroleh secara tidak sah kepada negara, tanpa harus menunggu diserbu KPK. Cara semacam ini akan lebih terhormat daripada dipaksa harus memakai seragam koruptor versi KPK.

Bisa jadi, penafirsan “selengekan” semacam ini jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang. Namun, sebagai genre sastra, puisi yang multitafsir bisa dimaknai secara personal oleh apresiannya. Sampeyan memiliki penafsiran yang berbeda? **

Analisis Makna Puisi Aku Chairil Anwar

Chairil Anwar
Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Analisis Makna

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Dalam baris pertama “kalau sampai waktuku” Si “aku” membuang semua kekhawatirannya tentang suatu kematian. Dia tidak lagi perduli kepada siapa saja yang yang merayunya. Tidak juga kekasinya.

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Si “aku” memesankan kepada orang-orang terdekatnya supaya supaya melepasnya, jika saatnya telah tiba menghadap sang khalik. Bahkan dia menyebt-nyebut dirinya sebagai binatang jalang, Sebuah simbol kehinaan.

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih peri

Si “aku” berterus terang tentang apa yang telah di deritanya, tapi dia tetap mencoba untuk menanggungnya sendiri. Karena jika saatnya tiba, semua perih akan hilang.

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Si “aku” ingin hidup seribu tahun lagi. Di sini Chairil telah menjelma si “aku”. Walaupun raganya telah tiada, tapi dia ingin karyanya tetap hidup selamanya Sigodang Pos.

Selasa, 01 Mei 2012

TAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN

Sejatinya, tak ada yang tak mungkin untuk di lakukan. Cukup tambahkan Cinta ke dalam niat baikmu, dan biarkan Tuhan yang meramunya.


Apa yg terjadi didunia ini pasti ada alasannya, jalani Kehidupan sebaik²nya karna Tuhan pasti punya rencana indah dalam hidupmu☺
Allah SWT adalah cinta abadi. orang tua & keluarga yg paling berarti & selalu saya cintai selamanya.

Wanita suka hal kecil. Terutama hadiah tak terduga. Hadiah itu penting, tapi yg terpenting adalah mencintainya.

Kasih Sayang mempunyai arti yg sangat luas. Namun semuanya adalah Keikhlasan, memberi lebih banyak dari menerima.

Kasih Sayang pula lah yg dpt membuat terjadinya keharmonisan antara Komitmen, Komunikasi dan Kenyaman agar dpt berjalan dgn baik.
Setiap pribadi pasti memiliki rasa Kasih Sayang, karena hal itu adl Anugerah dari Tuhan. Ruh kita itu adl Kasih Sayang itu sendiri.

Bisa dikatakan bahwa rasa Kasih dan Sayang itu jauh lebih tinggi daripada rasa Cinta yg masih banyak mengandung pengharapan dan Ego.

Banyak yang mengira Kasih Sayang dan Cinta hampir sama. karena kegunaan dan bentuk pengukapan dalam segi rasa hampir sama.

Kasih Sayang dlm sbh hubungan di ibaratkan sebagai sbh Wadah. Suatu hal yg dpt menampung aspirasi dan harapan bagi kedua insan.

Hal terakhir adalah Kasih Sayang. Tanpa adanya Kasih Sayang, maka Komitmen, Komunikasi dan Kenyamanan tak akan berjalan maksimal.

Kurangnya rasa nyaman dapat memicu seseorang untuk mencari Kenyamanan ditempat lain. Kata lainnya ada Selingkuh.
Apalagi yg kita butuhkan selain pasangan yg dapat membuat kita nyaman untuk berbagi semua kebahagian dan kesedihan kita?

Kenyamanan berarti menciptakan pikiran POSITIF yang lebih banyak drpd pikiran negatif. Mengurangi rasa curiga dan gengsi.

Kenyamanan dapat tercipta dengan jujur dlm bersikap, tulus dlm berkomitmen, dan ikhlas dlm mengasihi.

Dengan rasa nyaman terhadap pasangan kita maka kita akan dapat berkomunikasi dengan lebih baik. Perlu bukti?
Faktor selanjutnya adl Kenyamanan. Percuma kalau berhubungan dgn org yg tdk membuat kita nyaman utk berkomunikasi.
Kata-kata "pokoknya aku nggak mau tahu" dan "terserah kamu aja deh" adalah salah satu bentuk sifat egois. Hindarilah.

Ketika ingin membicarakan masalah tertentu yang bersifat privat atau sensitif, lakukan di tempat yg nyaman dan di saat yang tepat.
Jangan selalu mempertahankan argumen atau pandanganmu terhadap suatu hal tanpa mau memperhatikan pendapat pasanganmu.

Lebih baik berkata apa yang sesungguhnya daripada menumpuk hal-hal yang akan menjadi bumerang bagimu suatu hari.

Kamu memiliki 1 mulut dan 2 telinga bukan tanpa alasan. Perhatikan.. Komunikasi berjalan jalan dua arah.

Komunikasi bkn hanya mengenai bagaimana kita berbicara tetapi juga ekspresi wajah, tubuh dan sikap kita.
 
(MARIO TEGUH)

Minggu, 01 April 2012

Laporan

1.Pengertian Laporan
Laporan adalah bentuk penyajian fakta tentang suatu keadaan atau suatu kegiatan.pada dasarnya,fakta yang disajikan itu berkenaan dengan tanggung jawab yang ditugaskan kepada si pelapor.Fakta yang disajikan merupakan bahan atau keterangan berdasarkan keadaan objektif yang dialami sendiri oleh si pelapor (dilihat,didengar,atau dirasakan sendiri) ketika si pelapor melakukan suatu kegiatan.Kemudian,laporan itu diberitahukan oleh si pelapor.
Dalam pembuatan suatu laporan formal bahasa yang digunakan haruslah bahasa yang baik,jelas dan teratur.Bahasa yang baik tidak berarti bahwa laporan itu mempergunakan gaya bahasa yang penuh hiasan,melainkan dari segi sintaksis bahasanya teratur,jelas memperlihatkan hubungan yang baik antara satu kata dengan kata yang lain dan antara satu kalimat dengan kalimat lain. Penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua harus dihindari,kecuali penggunaan kata”kami” bila yang menyampaikan laporan adalah suatu badan atau suatu tugas.
2.Manfaat Pembuatan Laporan
   Laporan kegiatan merupakan alat yang penting untuk :
   a. Dasar penentuan kebijakan dan pengarahan pimpinan.
   b. Bahan penyusunan rencana kegiatan berikutnya.
   c. Mengetahui perkembangan dan proses peningkatan kegiatan.
   d. Data sejarah perkembangan satuan yang bersangkutan dan lain-lain.
3.Dasar – dasar Pembuatan Laporan
   1. Fungsi Informatif, Laporan bisa digunakan sebagai sumber informasi bagi pembacanya
   2. Fungsi Pertanggung jawaban, Laporan merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban 
       penulis terhadap    pembaca laporan / atasannya, atau tugas yang harus dan telah dilaksanakannya.
   3. Fungsi Pengawasan, Dengan membaca laporan, seorang atasan bisa mengawasi bawahan serta 
       tugas yang dilakukan bawahan tanpa harus melihat langsung.
   4. Fungsi Pengambilan Keputusan, Laporan dari bawahan dapat digunakan oleh atasan sebagai 
       bahan pertimbangan pengambilan keputusan. Juga berlaku untuk laporan koordinatif. Seorang 
       Kepala  Bagian atau Manajer dapat menggunakan laporan Manajer lain untuk membuat keputusan 
      di  bagiannya sendiri.
4.Macam – Macam Laporan.
    Laporan ada dua macam,yaitu laporan hasil penelitian Ilmiah dan laporan Teknis.
   1.Laporan Ilmiah.
      Laporan Ilmiah adalah laporan yang disusun melalui tahapan berdasarkan teori tertentu 
      dan  menggunakan metode ilmiah yang sudah disepakati oleh para ilmuwan (E.Zaenal Arifin,1993).
      Dan menurut Nafron Hasjim & Amran Tasai (1992) Karangan ilmiah adalah tulisan yang 
      mengandung  kebenaran secara obyektif karena didukung oleh data yang benar dan disajikan dengan
      penalaran serta analisis yang berdasarkan metode ilmiah.
      1.1. Masalah yang dibahas dalam tulisan ilmiah dapat berupa:
             a. Hasil penelitian.
             b. Hasil pengamatn.
             c. Pengalaman nyata.
             d. Hasil pemikiran.
      1.2. Jenis Laporan Ilmiah.
            a. Laporan Lengkap (Monograf).
                Menjelaskan proses penelitian secara menyeluruh. Teknik penyajian sesuai dengan aturan
                (kesepakatan) golongan profesi dalam bidang ilmu yang bersangkutan. Menjelaskan hal-hal
                 yang sebenarnya yang terjadi pada setiap tingkat analisis. Menjelaskan (juga) kegagalan yang 
                dialami, di samping keberhasilan yang dicapai. Organisasi laporan harus disusun secara sistamatis 
                (misalnya :judul bab,subbab dan seterusnya, haruslah padat dan jelas).
             b. Artikel Ilmiah.
                 Artikel ilmiah biasanya merupakan perasan dari laporan lengkap. Isi artikel ilmiah
                 harus difokuskan kepada masalah penelitian tunggal yang obyektif. Artikel ilmiah merupakan 
                 pemantapan informasi tentang materi-materi yang terdapat dalam laporan lengkap.
             c. Laporan Ringkas (Summary Report).
                 Laporan ringkas adalah penulisan kembali isi laporan atau artikel dalam bentuk yang lebih mudah
                 dimengerti dengan bahasa yang tidak terlalu teknis (untuk konsumsi masyarakat umum).
        1.3. Sistematika Laporan Ilmiah
               a. Judul.
               b. Daftar Isi.
               c. Prakata.
               d. Pendahuluan.
                e. Teks Pokok dalam Tubuh Karangan.
                f. Pengutipan.
                g. Referensi.
                h. Catatan Kaki.
                 i. Tabel,Grafik,Bagan,dan Gambar.
                 j. Bibliografi.
                k. Lampiran.
                 l. Indeks.
    2. Laporan Teknis.
        Laporan tentang hal teknis penyelenggaraan kegiatan suatu badan atau instansi.Laporan teknis
        mengandung data obyektif tentang sesuatu.data obyektif dalam laporan teknis itu juga mengandung sifat
        ilmiah,tetapi segi kepraktisannya lebih menonjol.sehingga yang dimaksud dengan laporan teknis 
        adalah Suatu pemberitahuan tentang tanggung jawab yang dipercayakan,dari si pelapor (perseorangan,
        tim,badan,atau instansi) kepada si penerima laporan tentang teknis penyelenggaraan suatu kegiatan 
       (E.Zaenal Arifin,1993).Dan menurut Muljanto Sumardi (1982) Dalam laporan teknik manusia 
        menggunakan bahasa tulis untuk mengkomunikasikan gagasan,paham,serta hasil pemikiran dan
        penelitian.

2.1. Tujuan Laporan Teknis.
Budaya lapor melapor merupakan sesuatu yang dianggap penting oleh berbagai kalangan,baik pemerintahan maupun swasta.Tujuannya adalah agar pelaksanaan tugas yang dipercayakan kepada si petugas dapat segera diketuhui oleh pihak yang menugasinya.
2.2. Manfaat Penyusunan Laporan Teknis.
a. Memberikan Keterangan.
Bermaksud memberikan keterangan kepada atasan atau pihak yang harus mengetahui suatu kegiatan.Jenisnya ada dua macam:
Jenis pertama laporan memberi katerangan yang menyangkut perkembangan atau kegiatan rutin dari satu waktu ke waktu yang lain,laporan jenis ini sering disebut laporan berkala.ada laporan berkala harian,mingguan,bulanan dan tahunan.
Jenis Kedua adalah laporan khusus yang bersifat insidental.Laporan khusus dapat berupa penyampaian hasil percobaan,pemeriksaan,atau hal-hal yang berhubungan dengan jalannya suatu kegiatan.
b. Memulai Suatu Kegiatan.
Dalam laporan jenis ini dicantumkan uraian tetang segala sesuatu yang berkenaan dengan tugas yang akan dilaksanakan.Penyajiannya harus tegas,terarah dan jelas.
c. Mengkoordinasi Suatu Kegiatan.
Laporan jenis ini berisi masalah pengaturan atau penempatan sesuatu pada tempatnya,susunannya atau keadaannya secara wajar.segala sessuatu yang dikoordinasi dikemukakan secara jelas dan padat.hanya pokok yang berhubungan dengan hal yang dikoordinasilah yang perlu dimasukan dalam laporan.
d. Merekam Pelaksanaan Kegiatan.
Laporan jenis ini dapat dibedakan atas laporan kemajuan dan laporan akhir.Laporan kemajuan disusun menurut jangka waktu tertentu.ada kalanya laporan kemajuan disusun tidak berdasarkan jangka waktu tertentu,tetapi berdasarkan persentase pencapaian.
Laporan akhir merupakan rangkuman keseluruhan pekerjaan hingga selesai.
2.3. Kesempurnaan Laporan Teknis
a. Ringkas.
Dalam laporan yang ditulis hanya mengemukakan hal-hal pokok secara ringkas yang berhubungan dengan tugasnya sehingga penerima laporan segera mengetahui permasalahannya.
b. Lengkap.
Laporan dapat semakin sempurna jika dilengkapi dengan bibliografi atau sumber kepustakaan.
c. Logis.
Laporan dianggap logis jika keterangan yang dikemukakannya dapat ditelusuri alasan-alasannya yang masuk akal.
d. Sistematis.
Laporan dianggap sistematik jika keterangan yamg tulisannya disusun dalam satuan-satuan yang berurutan dan saling berhubungan.
e. Lugas.
Laporan disebut lugas apabila keterangan yang diuraikannya disajikan dalam bahasa yang
langsung menunjukan persoalan.
2.4. Sistematika LaporanTeknis.
a. Bagian Awal.
Kulit luar laporan teknis.
Halaman judul laporan teknis.
Kata pengantar/Prakata.
Daftar isi.
Daftar tabel.
Daftar gambar,grafik,diagram(jika ada).
b. Batang Tubuh.
Pendahuluan.
Pembahasan/uraian.
Simpulan/penutup.
c. Bagian Akhir.
Daftar pustaka.
Lampiran.
5.Sistematika Laporan
Hendaknya laporan lengkap, dapat menjawab semua pertanyaan mengenai : apa ( what ), mengapa ( why ), siapa ( Who ), dimana ( where ), kapan ( when ), bagaimana ( how ).
Urutan isi laporan sebaiknya diatur, sehingga penerima laporan dapat mudah memahami.
Urutan isi laporan antara lain sebagai berikut :
1. Pendahuluan
Pada pendahuluan disebutkan tentang :
a. Latar belakang kegiatan.
b. Dasar hukum kegiatan.
c. Apa maksud dan tujuan kegiatan.
d. Ruang lingkup isi laporan.
2. Isi Laporan
Pada bagian ini dimuat segala sesuatu yang ingin dilaporkan antara lain :
a. Jenis kegiatan.
b. Tempat dan waktu kegiatan.
c. Petugas kegiatan.
d. Persiapan dan rencana kegiatan.
e. Peserta kegiatan.
f. Pelaksanaan kegiatan (menurut bidangnya, urutan waktu pelaksanaan, urutan fakta / datanya).
g. Kesulitan dan hambatan.
h. Hasil kegiatan.
i. Kesimpulan dan saran penyempurnaan kegiatan yang akan datang.
3. Penutup
Pada kegiatan ini ditulis ucapan terima kasih kepada yang telah membantu penyelenggaraan kegiatan itu, dan permintaan maaf bila ada kekurangan-kekurangan. Juga dengan maksud apa laporan itu dibuat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
Laporan diusahakan agar :
a. Singkat dan padat.
b. Runtut atau sistimatis.
c. Mudah dipahami isinya.
d. Isinya lengkap.
e. Menarik penyajiannya.
f. Berpegangan pada fakta, data dan persoalannya.
g. Tepat pada waktunya.
Lain – lain.
a. Dalam laporan dapat dilampirkan : photo-photo kegiatan, tanda bukti, surat-surat keterangan dan sebagainya ( copy )
b. Untuk mempermudah penyusunan laporan sebaiknya tetap mengacu pada proposal yang pernah diajukan.
c. Memberikan Laporan kegiatan dengan tembusan kepada satuan/ lembaga yang terkait. ( Mabi, Kwartir, Sponsor dll )
C.Perbedaan Sistematika Laporan.
1.Kerangka Karangan Ilmiah.
PRAKATA
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN
SINOPSIS
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Kerangka Teori
1.4 Ruang Lingkup
1.5 Sumber Data
1.6 Metode dan Teknik
BAB II ANALISIS/PEMBAHASAN
2.1 ….
2.2….
2.3 …
2.3.1 ….
2.4 ….
BAB III SIMPULANDANSARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
INDEKS
2.Kerangka Laporan Teknis.
PRAKATA
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Hasil yang diharapkan
1.4 Pelaksana
1.5 Penahapan dan Jadwal
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 ….
2.2….
2.3 …
2.3.1 ….
2.3.2…..
2.4 …
BAB III URAIAN KEGIATAN
3.1 …
3.2 …
3.3 …
3.3.1 …
3.3.2 …
3.4 …
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
4.1 simpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Sumber :
http://www.pramukanet.org/index.php?option=com_content&task=view&id=396&Itemid=100
http://nurad1k.blogspot.com/2010/02/teknik-penulisan-laporan.html
http://njiee.blogspot.com/2011/04/materi-laporan.html
http://hasim319.wordpress.com/2011/05/07/materi-laporan/

Rabu, 28 Desember 2011

KALIMAT EFEKTIF


A.   PENDAHULUAN

Kalimat merupakan hal yang sangat penting apabila kita membahas tentang bahasa dan susunannya. Kalimat digunakan untuk membuat surat, mengungkapkan sesuatu serta berbicara diberbagai kesempatan. Kalimat merupakan hal yang harus diketahui sebelum kita membuat paragraf dan juga sebuah karya tulis lainya. Apabila kita tidak benar – benar paham dengan kalimat, kita akan susah untuk mengungkapkan sesuatu dan akan terjadi kerancuan apabila nantinya kita membuat sebuah karya tulis. Kalimat yang baik akan mempengaruhi dari sebuah karya tulis, begitu juga sebaliknya. Sehingga kita harus hati – hati dalam membuat kalimat dan menempatkan kata – kata dalam sebuah kalimat. Dan sebagai mahasiswa sudah seharusnya kita bisa paham dan mengerti tentang kalimat, bisa membuat kalimat dan lebih lagi kita bisa menyusun sebuah karya tulis dengan kalimat – kalimat yang berbobot dan bermutu. Berikut pengertian kalimat secara leksikal atau berdasarkan kamus besar Indonesia dan macam – macam kalimat itu sendiri :
1.         Arti kalimat secara leksikal atau arti kamus bahasa Indonesia adalah:
o      Kalimat adalah susunan kata atau kelompok kata yang teratur dan mengandung maksud atau pikiran yang jelas.
o      Kalimat adalah satuan bahasa yang berdiri sendiri dan tidak merupakan bagian dari kesatuan yang lebih besar yang lain yang diakhhiri dengan intonasi final, terdiri atas satu atau lebih klausa.
o      Kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran, perasaan dan perkataan.
o      Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).


2.         Macam – macam kalimat
·                Kalimat perintah
·                Kalimat Berita
·                Kalimat Tanya
·                Kalimat Aktif
·                Kalimat Pasif
·                Kalimat Langsung
·                Kalimat Tidak Langsung
·                Kalimat Tunggal.
·                Kalimat Majemuk
·                Kalimat Efektif
·                Kalimat Utama
·               Kalimat Penjelas

B.     PEMBAHASAN

Dari berbagai macam jenis kalimat di atas, kami memilih pembahasan mengenai kalimat efektif yang dianggap relevan untuk dibahas dalam makalah kami kali ini. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai kalimat efektif : 

Kalimat Efektif

Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar. Menurut Gorys keraf adalah kalimat yang memenuhi syarat – syarat berikut :
a.         secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis.
b.         Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

Ciri – ciri kalimat efektif sebagai berikut :
M  Kalimat efektif mengandung kesatuan gagasan.
a)         Subyek dan atau predikat kalimat eksplisit.
Contoh :                    
Tidak efektif            :     Berhubungan itu mengemukakannya juga minat baca kaum remaja makin menurun.
Efektif                        :     Sehubungan dengan itu, dikemukakannya juga minat baca kaum remaja menurun.

b)      Subyek dan predikat kalimat hendaknya tidak terpisah terlalu jauh agar kesatuan gagasan terjamin.
Contoh :
Kurang kuat             :     Pembangunan jelas menuju zaman keemasan yang baru, menghendaki pengembangan bakat – bakat pendukung kebudayaan bangsa disegala lapangan mulai dari hal – hal yang tampaknya kecil seperti cara mengatur rumah tangga, cara baergaul dan cara memperoleh hiburan sampai meningkatkan kemasalah – masalah besar seperti pembangunan kota, memproduksi pangan, menciptakan berbagai bentuk kesenian baru, pendeknya segala soal yang membina kebudayaan baru.

Efektif                        :     pembangunan jelas munuju zaman keemasan yang baru. Oleh karena itu, pembangunan menghendaki pengembangan bakat – bakat kebudayaan bangsa disegala lapangan, mulai dari hal – hal yang nampaknya kecil sampai kemasalah – masalah besar.

c)         Keterangan harus ditempatkan setepat – tepatnya dan seterang – terangnya dalam kalimat sehingga sama sekali tidak mengganggu pemahaman. Keterangan yang dimaksud disini mencakup atribut, opsisi, adverbial, dalam bahasa Inggris disebut modifer.
-    Squinting modifiers ( keteranga menjuling )
Contoh :
Tidak efektif            :     Tahun ini SPP mahasiswa baru saja dinaikkan.
Efektif                        :     SPP mahasiswa tahun ini baru saja dinaikkan.
-    Dangling modifires ( keterangan tak terkait )
Contoh :
Tidak efektif            :     dapat menyusun anggaran belanjanya dengan cermat, akhirnya hutang – hutangnya dapat dilunasi.
Efektif                        :     karena dapat menyusun anggaran belanjanya dengan cermat, akhirnya ia dapat melunasi semua hutangnya.
-    Misplaced modifiers ( keterangan salah letak )
Contoh:
Tidak Efektif             :     dalam keramaian serupa itu, merekapun tidak mau kalah dengan yang muda – muda, yang jarang terjadi sekali dalam lima tahun.
Efektif                        :     dlam keramaian serupa itu, yang jarang terjadi sekali dalam lima tahun, merekapun tidak mau kalah dengan yang muda – muda.
-    Unidiomatic modifiers ( keterangan yang tidak idiomatis )
Contoh:
Tidak efektif            :     kalimat tersebut harus disusun sedemikian rupa agar tidak membingungkan pembaca.
Efektif                        :     kalimat tersebut harus disusun sebaik – baiknya agar tidak membingungkan pembaca.
-    Abrupt modifiers ( keterangan mendadak )
Contoh :
Tidak efektif            :     Kami berkeputusan, karena keluarga kami dan kawan – kawan menasehati kami untuk tidak menginap di hotel besar itu, untuk menginap dirumah penginapan penduduk.
Efektif                        :     Karena keluarga dan kawan – kawan menasehati kami untuk tidak menginap di hotel besar itu, kami berkeputusan untuk menginap di rumah penginapan penduduk.
-    Related modifiers illogicaly separated ( keterangan yang berkaitan terpisah tak logis ).
Contoh:
Tidak efektif            :     meskipun guru itu masih dlam perawatan dokter kegagalannya memberitahukan absennya kepada kepala sekolah tidak diterima, biarpun sebenarnya ternyata ia sudah berusaha memberi tahu.
Efektif                        :     meskipun guru itu masih dirawat dokter dan sebenarnya sudah berusaha memberitahukan absennya kepada kepala sekolah, kegagalannya untuk memberitahu tidak dapat diterima.
-    Fragment ( kalimat tak lengkap )
Contoh:
Tidak Efektif             :     penyusunan buku pelajaran ini bertujuan membantu masyarakat, khususnya yang berada di pedesaan agar mendapat kesempatan belajar membaca dan menulis.
Efektif                        :     penyusunan  buku pelajaran ini bertujuan membantu masyarakat, khususnya yang berada di pedesaan agar mendapatk kesempatan belajar dan menulis.

d)        Tanda baca harus dapat digunakan sebaik – baiknya. Kalimat yang efektif harus bersih dari kesalahan – kesalahan berikut ini :
o    Runing on sentences ( fused sentences ) kalimat bertumpukan.
Contoh:
Tidak efektif         :     kita semua mengemban amanat penderiataan rakyat harus selalu mengupayakan kesejahteraan bangsa kita, baik jasmani maupun rohani.
Efektif                     :     Kita semua, selaku mengemban amanat penderitaan rakyat, harus selalu mengupayakan kesejahteraan rohani dan jasmani bangsa kita.
o    Comma splices ( comma faults ) kesalahan pemakaian koma dalam kalimat.
Contoh:
Tidak efektif         :     Seorang mahasiswa seumpama pendaki gunung, sedang mendaki gunung cita – cita.
Efektif                     :     seorang mahasiswa, seumpama pendaki gunung sedang mendaki gunung cita – cita.

e)        Kalimat efektif hendaknya bersih juga dari :
o    Kontamisani ( kerancuan )
Contoh:
Tidak efektif         :     Di sekolah itu para siswa diajarkan berbagai macam ketrampilan.
Efektif                     :     disekolah itu kepada siswa diajarkan bermacam – macam ketrampilan.
o    Pleonasme dan trutologi ( penambahan yang tidak perlu)
Contoh :
Tidak efektif         :     pada zaman dulu kala, dalam sebuah kerajaan memerintah seorang ratu yang sangat arif lagi bijaksana.
Efektif                     :     pada zaman dahulu, dalam sebuah kerajaan memerintah seorang ratu yang arif.
o    Hiperkorek ( membetulkan apa yang sudah betuk sehingga salah )
Contoh :
Tidak efektif         :     semua ijazahnya dilaminasi Supaya awet.
Efektif                     :     Semua ijazahnya dilamisai supaya awet.

M  Kalimat efektif mewujudkan koheresi yang baik dan kompak.
Koheresi adalah pertautan antara unsur – unsur yang mebangun kalimat dan alinea. Tiap kata atau frase dalam kalimat harus berhubungan kedalam maupun keluar. Untuk menjaga koheresi itu, hendaknya penulis :
§  Kritis terhadap  pemakaian kata ganti dalam kalimat. Ada kemungkinan bahwa pemakaian kata ganti tersebut menyebabkan kalimat tidak efektif.
§  Kritis terhdap pemakaian kata depan, adakalanya terpakai kata depan yang sebenarnya tidak diperlukan atau sebaliknya, terhapus kata depan yang sebenarnya harus dipakai.
§   Memanfaatkan kata – kata peralihan atau transisi untuk mengeksplisitkan dan memperjelas hubungan gagasan antara kalimat yang satu dan kalimat yang lain dalam alinea, antara alinea yang satu dengan yang lain dalam paragraf.

M  Kalimat efektif merupakan komunikasi yang berharkat.
Harkat berarti daya, tenaga, kekuatan, bila penulis ingin agar komunikasinya sampai dan mengesam. Kalimat yang ditulis harus berharkat dan bertenaga. Cara – cara untuk mengharkatkan kalimat antara lain:
-      Bagian kalimat yang hendaknya dipentingkan atau diutamakan diletakkan pada awal kalimat, dalam hal ini dapat terwujud ialah INVERSI pada awal kalimat atau prolepsi atau gabungan inversi dan prolepsis.
   Inversi              :    predikat diletakkan didepan subjek
Contoh:
Biasa                  :     Penyakit AIDS merajalela dikalangan orang barat.
Berharkat        :     dikalangan orang barat penyakit AIDS merajalela.
  Prolepsis          :  keterangan atau objek diletakkan didepan subjek . prolepsis keterangan lebih banyak terjadi pada prolepsis objek.
Contoh:
Biasa                  :     Ayah suka makan sate ; bakso tidak
Berharkat        :    Sate, ayah suka ; bakso tidak
  Gabungan inversi dan prolepsis
-       Bila penulisan menyebutkan serangkaian hal ( peristiwa ) hendaknya diperhatikan dan diusahakan agar urutan hal (peristiwa) itu logis, kronologis dan berklimaks.
-       Kata kunci diulang.
-       Kata atau frase yang hendak dipentingkan dapat ditambah partikel pementing lah, pun, dan kah.
-       Serangkaian hal yang disebutkan dapat menjadi lebih kuat dengan pararelisme.

M  Kalimat efektif memperhatikan pararelisme.
Pararelisme ( kesejajaran ) adalah penggunaan bentuk gramatikal yang sama untuk unsur – unsur yang sama fungsinya. Jika sebuah pikirannya dinyatakan dengan frase, maka pikiran – pikiran lain yang sejajar harus dinyatakan pula dengan frase. Jika satu gagasan dinyatakan dengan kata benda verbal atau kata kerja bentuk Me- di- dan sebagainya, maka gagasan lain yang sejajar harus dinyatakan pula dengan kata benda verbal atau kata kerja bentuk me- di- dan sebagainya. Upaya – upaya untuk berhemat kata antara lain:
-      Menghilangkan subjek yang tidak diperlukan.
-      Menghindari pemakaian superordinat dan hiponim bersama – sama.
-      Menjatukan pemakaian kata depan dari dan daripada yang tidak perlu.
-      Menghindari penguraian kata yang tidak perlu.
-      Menghilangkan kata – kata pembalut seperti, fakta, faktor, unsur yang sebenarnya tidak perlu.
-      Menghilangkan pleonasme.

M Kalimat efektif didukung variasi.
Yang dimaksud dengan variasi kalimat disini ialah variasi kalimat – kalimat yang membangun paragraf atau alinea.

M Kalimat efektif dibantu pemakaian EYD.
Pemakaian huruf kapital. Huruf kapital digunakan sebagai :
-      Huruf pertama pada awal kalimat
-      Huruf pertama petikan langsung.
-      Huruf pertama dalam ungkapan yang bnerhubungan dengan kitab suci, nama tuhan, termasuk kata gantinya.
-      Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang.


B.        KESIMPULAN

          Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!). Dan salah satu dari macam – macam kalimat adalah Kalimat Efektif, dan kalimat itu bisa dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar.