Senin, 14 Oktober 2013

LAPORAN

LAPORAN ILMIAH SEDERHANA A. Kegiatan umum -lkti - - B. JUDUL KARYA ILMIAH SAL BRIKET KOTORAN KAMBING SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF PEMANFAATAN KOTORAN KANDANG SEBAGAI PUPUK RAMAH LINGKUNGAN PEMANFAATAN LIMBAH KULIT TELUR SEBAGAI PEMBUATAN ASESORIS PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA DENGAN PRESTASI SISWA KELAS XII SMK MA’ARIF NU 2 AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN AJARAN 2012-2013 STUDIO MUSIK LAPAR SEBAGAI PEMBERDAYAAN EKONOMI MAHASISWA UGM TRANSTOILET SEBAGAI DEVEKASI SEHAT TERNAK SEMUT SEBAGAI PEBERDAYAAN E MASYARAKAT DESA AJIBARANG IPTEK KEWIRAUSAHAAN PENGABDIAN MASYARAKAT C. Pengertian Laporan • Laporan adalah bentuk penyajian fakta tentang suatu keadaan atau suatu kenyataan. • Kamus Besar Bahasa Indonesia laporan adalah tulisan panjang berisi kejadian berikut persoalannya berdasarkan pengamatan sendiri yang disusun secara resmi, sampai sedetail-detailnya. • Slamet Soeseno, Teknik Penulisan Ilmiah Populer, laporan berarti cara penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. • Jadi, laporan hasil pengamatan dapat kita artikan sebagai tulisan yang memuat informasi mengenai kegiatan pengamatan terhadap objek tertentu yang dibuat oleh penulis sehubungan dengan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. B. Fungsi Laporan 1. pertanggungjawaban tertulis dari orang yang diberi tugas; 2. landasan bagi pemimpin dalam mengambil kebijakan/keputusan; 3. alat bagi pemimpin untuk melakukan pengawasan; dan 4. dokumen untuk bahan studi serta sumber pengalaman bagi orang lain. C. Sifat Laporan 1. Laporan ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar (bahasa yang digunakan adalah bahasa resmi, disampaikan secara lugas, tidak bertele- tele), 2. Laporan disusun secara sistematis, dengan tata urutan yang jelas (urutan waktu, hal, peristiwa, dan lain-lain), 3. Laporan dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat diterima akal sehat, 4. Fakta yang digunakan dalam laporan harus dapat dipercaya, 5. Laporan harus dapat menimbulkan gambaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan, dan kondisi penerima laporan, dan 6. Laporan harus dibuat lengkap dan sesempurna mungkin (semua kegiatan yang dilakukan disampaikan dalam laporan). D. Jenis Laporan Berdasarkan gaya penulisan, ada 2 yaitu: a. Investigative report yaitu laporan hasil pengamatan yang berisi kejadian dan fakta tanpa ditambah dengan unsur-unsur fiktif. Biasanya laporan jenis ini dibuat oleh pengamatnya sendiri dan berbentuk cerita. b. New journalism report yaitu laporan hasil pengamatan yang berisi kejadian dan fakta-fakta ditambah unsur-unsur fiktif agar lebih menyentuh emosi pembacanya. Si penulis di sini memakai sudut pandang “aku”, seolah-olah ia ada di tempat kejadian dan mengamati langsung. Dalam hal ini, si penulis membawa pembaca ke dekat objek pengamatannya. Dengan kata lain, new journalism report dipakai untuk melaporkan kejadian melalui seorang saksi mata, namun bukan berdasarkan pengamatannya sematamata, tetapi disertai perasaannya sebagai manusia. Berdasarkan bentuknya, ada 2 yaitu: a. Laporan ilmiah berkenaan dengan penelitian sehingga kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. b. Laporan teknis berkenaan dengan penyelenggaraan suatu kegiatan. Menurut tujuannya, ada 5 yaitu: a. laporan berbentuk surat, b. laporan berbentuk memorandum (memo), c. laporan berkala, d. laporan laboratorium, dan e. laporan formal dan semiformal. Menurut isinya, ada 2 yaitu: a. Laporan formal laporan yang memenuhi ciri-ciri formal sebuah buku. b. Laporan nonformal /laporan sederhana laporan yang tidak memenuhi ciri-ciri formal sebuah buku. Bentuk ini digunakan bila laporan yang dibuat isinya singkat/pendek. Dalam laporan sederhana ini tidak perlu ada pembagian isi ke dalam bab-bab, tetapi cukup dengan judul-judul samping. Kegiatan yang menggunakan laporan bentuk ini, misalnya: praktikum/percobaan, wawancara, laporan buku, kegiatan seminar, kunjungan, dan lain-lain. E. Laporan Formal Sistematika Lengkap 1. Bagian Awal a. Kover b. Sari/Abstrak c. Pengesahan d. Motto dan Persembahan (jika perlu) e. Kata Pengantar f. Daftar isi g. Daftar Tabel (jika perlu) h. Daftar Gambar (jika perlu) i. Daftar Grafik (jika perlu) j. Daftar Lampiran (jika perlu) 2. Bagian Isi a. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Identifikasi Masalah 1.3 Pembatasan Masalah 1.4 Rumusan Masalah 1.5 Tujuan 1.6 Manfaat b. BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN TEORITIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1 Teoritis c. BAB III METODOLOGI 3.1 Pendekatan Penelitian 3.1 Jenis penelitian 3.1 Subjek Penelitian 3.1 Metode Penelitian 3.1 Teknik Pengambilan Data 3.1 Teknik Pengolahan Data d. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1 Pembahasan e. BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan 5.1 Saran 3. Bagian Akhir Daftar Pustaka Lampiran Daftar Indek (jika perlu) Sistematika Sederhana 1. Bagian Awal a. Kover b. Sari/Abstrak c. Pengesahan d. Kata Pengantar e. Daftar isi 2. Bagian Isi a. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Identifikasi Masalah 1.3 Pembatasan Masalah 1.4 Rumusan Masalah 1.5 Tujuan 1.6 Manfaat b. BAB II TEORITIS c. BAB III METODOLOGI 3.1 Desain penelitian 3.1 Subjek Penelitian 3.1 Metode Penelitian 3.1 Teknik Pengambilan Data 3.1 Teknik Pengolahan Data d. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1 Pembahasan e. BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan 5.1 Saran 3. Bagian Akhir Daftar Pustaka Lampiran F. LAPORAN NONFORMAL G. CONTOH LAPORAN 1. LAPORAN KEGIATAN LAPORAN PENYELENGGARAAN AKSI KEMANUSIAAN UNTUK ACEH LAPORAN PESANTREN KILAT SMK MA’ARIF NU 2 AJIBARANG LAPORAN BAKTI SOSIAL DI DESA DARMA KECAMATAN AJIBARANG LAPORAN BULAN BAHASA SMK MA’ARIF NU 2 AJIBARANG LAPORAN KEGIATAN 17 AGUSTUS SMK MA’ARIF NU 2 AJIBARANG LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN DI RSUD AJIBARANG LAPORAN KEGIATAN MAULID NABI 1434 H DESA CIKAWUNG, KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS 2. LAPORAN WAWANCARA LAPORAN WAWANCARA DENGAN TAUFIK HIDAYAT 3. LAPORAN PERJALANAN LAPORAN PERJALANAN KE OBJEK WISATA TANGKUBAN PERAHU LAPORAN STADY TOUR KE BALI PROPOSAL STUDI TOUR SMP NEGERI 22 JAKARTA TAHUN 2006 4. LAPORAN KUNJUNGAN LAPORAN PRAKTIK KUNJUNGAN INDUSTRI DI BBPOM YOGYAKARTA 5. LAPORAN PENELITIAN LAPORAN PENELITIAN MAGANG SEBAGAI JEMBATAN MOBILITAS SOSIAL DARI PETANI MENJADI PERAJIN PROPOSAL KEGIATAN DIALOG INTERAKTIF DAMPAK PEMAKAIAN NARKOBA PADA REMAJA DISELENGGARAKAN OLEH GABUNGAN PENGURUS OSIS SMK SE-KOTAMADYA SURABAYA H. KERANGKA LAPORAN Judul : Laporan Perjalanan ke Objek Wisata Tangkuban Perahu Kerangka karangan : 1. Persiapan - Panitia Piknik - Kendaraan yang akan dipergunakan - Biaya yang diperlukan - Bekal, perlengkapan lain yang perlu 2. Di perjalanan - Waktu berangkat - Waktu pulang 3. Objek Wisata Tangkuban Perahu - Lokasi objek wisata - Jumlah pengunjung - Fasilitas yang tersedia I. PENULISAN LAPORAN UKURAN KERTAS A4 MARGIN 4,4,3,3 UKURAN HURUF/FONT 12 JENIS HURUF TIME NEW ROMAN SPASI 1,5 HALAMAN BAGIAN AWAL I, II, dsb HALAMAN BAB 1,2, dsb SUBBAB BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 2.1.1 2.1.1.1 2.1.1.2 2.2 J. PENGUTIPAN a. Catatan perut Kutipan Langsung Pendek (4 baris) Amalia (1999:12) menyimpulkan “Ada hubungan yang erat antara kemampuan berbahasa dan lingkungan sosial tempat tinggal pemakai bahasa.” Kutipan langsung panjang (lebih 4 baris) Suriasumantri (1987:165) mengemukakan bahwa : “Perbedaan utama antara manusia dan binatang, terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari objek yang diinginkannya atau membuang benda yang menghalanginya. Dengan demikian, sering kita melihat seekor monyet yang menjangkau secara sia-sia benda yang dia inginkan; sedangkan manusia yang paling primitive pun telah tahu mempergunakan bandringan, laso, atau melempar dengan batu. Manusia sering disebut homo faber, makhluk yang membuat alat. Kemampuan membuat alat itu dimungkinkan oleh pengetahuan itu juga membutuhkan alat-alat. Kemampuan membuat alat itu dimungkinkan oleh pengetahuan. Berkembangnya pengetahuan itu juga membutuhkan alat-alat.” Kutipan tidak langsung Herawati (1999:31) menyimpulkan bahwa siswa jurusan ekstra memiliki kemampuan menulis karya ilmiah yang lebih baik daripada siswa jurusan sosial. b. Catatan kaki c. Daftar pustaka -Artikel/buku artikel Atikah, H.Z. 1998. Karakteristik Penilaian Kualitatif, dalam Kurniasih (ED). Pengembangan Penilaian Kualitatif dalam Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (hlm. 36-43). Bandung: PSBS Cabang Bandung. -majalah/Koran Huda, N. 1991. 13 November. Menyiasati Krisis Listrik Musim Kering. Jawa Pos, hlm. 6. -dokumen resmi pemerintah Undang-Undang Republik Indonesia, No.2 Th. 1989 tentang system Pendidikan Nasional. Jakarta. PT Armas Dutajaya. -terjemahan Ary, Donald L.C. Jacobs, dan A. Rozawick. “Tanpa tahun”. Pengantar Penelitian Pendidikan. Arif Furchan (pen). 1982. Surabaya: Usaha Nasional. -skripsi Solihin. 1992. Kesesuaian TIK, KBM, dan Evaluasi Mahasiswa PPL Universitas Lampung. Skripsi tidak diterbitkan. Lampung: FKIP Universitas Lampung. - Makalah/seminar Kuntarto, Bambang. 1999. HIV di Kalangan Remaja. Makalah disajikan dalam Seminar Kesehatan, Pemda Kabupaten Lebak, Lebak, 10-11 September 1999. K. Latar Belakang (1). Sebaliknya, bangsa-bangsa yang miskin SDM meski mereka kaya sumber daya alam (SDA) tetap saja akan tertinggal. (2). Kemajuan pesat yang diraih Jepang, Amerika, Singapura, dan negara-negara maju lainnya lebih banyak ditentukan oleh kualitas SDM daripada faktor sumber daya alam (SDA). (3). Tak ada yang menyangsikan bahwa sumber daya manusia (SDM) berkualitas merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. (4). Oleh karena itu, untuk menjadi bangsa yang maju, tidak ada pilihan lain kecuali meningkatkan mutu SDM. (2). Kemajuan pesat yang diraih Jepang, Amerika, Singapura, dan negara-negara maju lainnya lebih banyak ditentukan oleh kualitas SDM daripada faktor sumber daya alam (SDA). (1). Sebaliknya, bangsa-bangsa yang miskin SDM meski mereka kaya sumber daya alam (SDA) tetap saja akan tertinggal. (3). Tak ada yang menyangsikan bahwa sumber daya manusia (SDM) berkualitas merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. (4). Oleh karena itu, untuk menjadi bangsa yang maju, tidak ada pilihan lain kecuali meningkatkan mutu SDM. Laporan Penelitian Magang sebagai Jembatan Mobilitas Sosial dari Petani menjadi Perajin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perajin sering dipandang memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada petani. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa seorang perajin biasanya bekerja di dalam rumah, terlindung dari terik sinar matahari sehingga suasananya tampak nyaman. Sebaliknya, petani harus bekerja di sawah, di bawah sengatan sinar matahari, dan kadang harus bergumul dengan kotoran kotoran yang berbau tidak sedap. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika sebagian masyarakat pedesaan masih menganggap bahwa pekerjaan perajin lebih berprestise daripada petani meskipun hanya menjadi perajin industri kecil dengan skala usaha yang masih terbatas. Lapangan pekerjaan di sektor industri kecil yang makin terbuka menyebabkan terjadinya mobilitas sosial dari petani menjadi perajin. Meskipun sebenarnya mereka belum memiliki keahlian yang memadai, terlebih lagi tingkat pendidikan mereka sebagian besar (73%) masih berpendidikan SD ke bawah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa produktivitas kerja dan hasil yang mereka peroleh masih rendah. Berkaitan dengan hal di atas, perlu diadakan penelitian yang saksama mengenai mobilitas sosial dan petani menjadi perajin. Dalam laporan ini, objek penelitiannya adalah masyarakat pedesaan di sekitas Surakarta, Jawa Tengah. 1.2 Identifikasi masalah 1.3 Pembatasan Masalah Mengingat terbatasnya pengetahuan penulis, penulis membatasi penelitian ini pada penyebab terjadinya mobilitas sosial dari petani menjadi perajin dan cara menyadarkan masyarakat dari dampak industrialisasi. Hal itu mempertimbangkan ………….. 1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah tersebut rumusan masalah penelitian sebagai berikut. 1) Apa penyebab terjadinya mobilitas sosial dari petani menjadi perajin? 2) Bagaimana cara menyadarkan masyarakat dari dampak industrialisasi? 1.5 Tujuan Penelitian 1) Menelaah penyebab terjadinya mobilitas sosial dari petani menjadi perajin. 2) Memberikan penyadaran pada masyarakat dampak industrialisasi. 1.6 Manfaat Penelitian Bagi Peneliti Bagi Masyarakat BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Magang 2.1 Mobilitas Sosial 2.1 Petani 2.1 Perajin BAB III METODOLOGI 3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan survei secara kualitatif dengan cara melakukan wawancara dengan narasumber. Digunakannya metodologi kualitatif agar hasil yang dicapai 3.2 Prosedur Penelitian 1. Menentukan objek penelitianPenelitian 2. Melakukan wawancara dengan narasumber 3. Mengklasifikasi masalah 4. Merumuskan masalah 5. Memberikan solusi/simpulan 3.3 Desain Penelitian 3.4 Teknik Pengambilan Data 1. Angket 2. Wawancara 3. Observasi 4. Rekaman gambar 3.5 Teknik Pengolahan Data BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Faktor Penyebab Mobilitas Sosial dari Petani Menjadi Perajin Berdasarkan survei yang telah dilakukan, ada beberapa factor yang menyebabkan mobilitas sosial dari petani menjadi perajin melalui proses magang sebagai berikut. 1. Pengaruh media masa Media massa baik berupa media elektronik maupun cetak telah membawa pengaruh yang besar terhadap pola pikir masyarakat pedesaan. Selama ini, media massa selalu mengangkat kesuksesankesuksesan seorang perajin. Dengan demikian, lambat laun opini publik tersebut akhirnya mendorong keinginan petani untuk menjadi perajin. 2. Dukungan sosial keluarga dan masyarakat Keluarga, kerabat dekat, dan komunitas yang melatari kehidupan petani sering memberikan saran dan harapan yang besar untuk menjadi perajin. Mereka selalu memandang orangorang yang telah sukses berkat usaha menjadi seorang perajin industri kecil meskipun mereka masih berstatus magang atau buruh kontrak. 3. Sistem perekonomian Indonesia yang lebih mengutamakan sector industri daripada pertanian Perekonomian negara kita yang terbawa arus globalisasi dan kepentingan neoliberalisme (para pemilik modal) telah mendorong lajunya industrialisasi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa investasi yang mereka tanamkan lebih mengarah pada sektor industri. 4. Tingkat pendidikan yang rendah Rendahnya tingkat pendidikan mereka dan keahlian yang belum memadai membuat mereka tidak memiliki sistem control diri yang kuat. Konsep diri yang lemah ini menyebabkan mereka mudah terbawa arus zaman. 4.2 Cara Menyadarkan Masyarakat dari Dampak Industrialisasi BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan para petani melakukan mobilitas sosial menjadi perajin. Jika tidak ada suatu program penyadaran baik dari pemerintah maupun masyarakat setempat, dapat dipastikan hasil produksi pertanian akan makin berkurang sehingga negara pun akan mengimpor beras dari luar negeri. 5.2 Saran Akhirnya, diharapkan penelitian ini mampu memberikan penyadaran pada masyarakat dan dapat menjadi masukan untuk pihak-pihak yang berwenang memberikan kebajikan. Pihak-pihak tersebut misalnya para dewan legislatif dan eksekutif supaya memberikan arahan dan rencana pembangunan yang lebih berpihak pada sektor pertanian, terutama masyarakat miskin pedesaan.

UNSUR EKSTRINSIK PROSA

Unsur Ekstrinsik Cerita (Cerpen/Novel) Unsur ekstrinsik yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam cerita. Nilai-nilai itu antara lain: nilai agama, nilai moral, nilai sosial, nilai budaya. 1. Nilai Agama Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan aturan/ajaran yang bersumber dari agama tertentu. Contoh: Ahim memperlama sujudnya. Ia banyak meminta di tiap sujud karena sujud adalah saat dikabulkannya doa. Ia dengan sepenuh hati meminta kepada Allah agar dimudahkan menghadapi ujian nasional esok. Ahim telah mempersiapkan diri secara maksimal, tetapi ia yakin apa yang akan ia dapat adalah apa yang akan Ia karuniakan kepadanya. Nilai agama yang terkandung dalam penggalan cerita di atas adalah meminta kepada Allah saat sujud dalam salat. 2. Nilai Moral Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau etika. Nilai moral dalam cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa pula nilai moral yang buruk/jelek. Contoh: Amak menatap orang itu dengan nanar. Apa yang diucapkan oleh mulut perempuan itu seperti sekeranjang sampah yang sudah sangat membusuk. Ini hal baru bagi Amak. “Kau kerja di sini harus izin dulu, tak bisa sekehendak perutmu!” Perempuan itu sudah paruh baya. Buruknya isi lidahnya mengimbas kepada keburukan wajahnya. Nilai moral yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah nilai moral yang jelek, yaitu seorang perempuan yang sangat kasar mulutnya pada orang lain. Adi mengangkat tubuh Haikal ke pundaknya. Hah…berat juga, katanya dalam hati. Ia berjalan pelan menuruni bukit. Ia harus segera tiba di perkampungan terdekat agar nyawa sahabatnya ini bisa diselamatkan. Gigitan ular berbisa di tempat mereka berkemah semalam, tampak membuat kaki kanan Haikal membiru kehitaman. Nilai moral yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah nilai moral yang baik, yaitu kesetiaan seorang sahabat yang berjuang menyelamatkan nyawa sahabatnya. 3. Nilai Budaya Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan/tradisi/adat-istiadat yang berlaku pada suatu daerah. Contoh: Pusing kepala Inop sekarang. Rasanya tumbuh sebuah uban sehari di kepalanya. Ke mana hendak dicarikannya uang tiga juta rupiah untuk diserahkan kepada keluarga calon mertuanya. Uang itu akan digunakan sebagai pengisi sudut namanya, suatu istilah untuk menamakan pemberian pihak calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan. “Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mak?” tanya Inop agak melotot kepada Amaknya. “Kau sudah aku bilang, tak usah buru-buru kawin. Ka babini seperti orang sasak cirik sajo. Kini aden juo yang susah!” jawab Mak marah. Sekarang bukan satu, tiga puluh tiga uban sehari bertunas di kepala Inop. Nilai budaya yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah kebiasaan di suatu tempat di Ranah Minang, pihak calon mempelai laki-laki memberi sesuatu kepada pihak keluarga calon mempelai perempuan. 4. Nilai Sosial Nilai sosial yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat. Contoh: Semua bersedih. Langit pun tampak mendung, seakan ikut bersedih. Jenazah Yuda terbaring kaku di ruang depan. Masyarakat datang berbondong-bondong memenuhi rumah duka. Mereka ikut kehilangan seseorang yang selama ini dikenal sangat rajin mengurus mesjid, ramah, dan ringan tangan dalam memberi bantuan. Sebagian masyarakat sudah berangkat ke pemakaman untuk menggali kuburan, dan mempersiapkan pemakaman. Nilai sosial yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah masyarakat yang dengan suka rela menjenguk orang yang kemalangan dan bergotong royong mempersiapkan pemakaman.

SUDUT PANDANG DALAM PUISI

Sudut pandang secara garis besar dibagi menjadi 2 : 1. Sudut pandang orang pertama 2. Sudut pandang orang ketiga (Apakah ada sudut pandang orang kedua? Bab ini akan dibahas setelah penjelasan kedua sudut pandang tersebut) Sudut pandang orang pertama Adalah keadaan seolah-olah penulis/pembaca menjadi tokoh utama didalam cerita, biasanya digunakan subjek “Aku, saya, diriku” dsb. contoh : aku merasakan sesuatu yang hangat menerpa kulitku. Perlahan aku membuka sedikit-demi sedikit mataku. ‘Sudah siang’ batinku. Kutarik lagi selimut hangat ku untuk menutupi silau mentari yang telah mengusik tidurku… Salah satu contoh diatas dikhususkan untuk sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Ada kalanya si pelaku utama tersebut menceritakan orang lain dalam hal ini sudut pandang tetap pada pelaku utama. contoh : Aku terus mengikutinya berjalan tanpa sepengetahuannya. Atau mungkin dia tahu aku mengikutinya dan membiarkan begitu saja, aku tidak tahu. Tiba – tiba ia berhenti tanpa alasan yang jelas. Seketika aku panik harus bersembunyi dimana? Aku terlihat seperti orang bodoh, tapi aku hanya ingin tahu kemana arah tujuannya. Mau kemana dia. Ada pula jenis penggunaan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan. Artinya, keadaan seolah-olah penulis/pembaca sebagai yang bercerita namun posisinya dalam cerita tidak sebagai pelaku utama. contoh : Aku iri pada Angga, dia sahabatku, sekaligus orang yang kuanggap rival. Ia selalu lebih dilihat dari pada aku. Terkadang aku merasa benci dengannya, tapi ia juga selalu membantuku dalam segala hal. Terlebih kemarin, saat pentas seni. Aku melihatnya bersama Anita, gadis yang kusukai. Aku tak tahu harus mengalah lagi atau tidak. Aku menginginkan Anita, aku rasa dia juga mempunyai perasaan yang sama. Aku tidak menyalahkannya menyukai Anita, karena akupun tak pernah bercerita padanya bahwa aku menyukai Anita. Tapi mengapa setiap hal yang kusukai selalu saja ia sukai juga? Sudut pandang orang ketiga Adalah keadaan seolah-olah penulis/pembaca menjadi orang yang sedang menceritakan tokoh utama dalam tulisan/cerita. Ada banyak variasi dalam menggunakan sudut pandang orang ketiga diantaranya 1. Sudut pandang orang ketiga diluar cerita serba tahu 2. Sudut pandang orang ketiga terbatas Sudut pandang orang ketiga diluar cerita serba tahu adalah keadaan seolah-olah pelaku mengetahui semua yang dilakukan oleh semua tokoh dalam cerita, tetapi ia tidak terlibat dalam cerita. contoh : Sore itu cukup kelam, nampaknya hujan akan segera mengguyur kota kecil yang tak dapat dipastikan keberadaan penghuninya tersebut. Angin pun terus bertiup dengan kencang menemani kegundahan hati seorang pemuda yang berjalan beriringan dengannya. Pemuda itu terlihat kusut dibalut dengan seragam putih-abu-abu nya yang penuh noda dan darah, tertulis sebuah tanda pengenal pada dada bidangnya, Angga Prasetya. Ia tidak tahu harus pergi kemana, karena memang ia tidak mengenal tempat dimana ia berada sekarang. Beberapa puluh meter setelah ia berjalan ia melihat sesosok manusia yang entah iapun tidak tahu siapa. “Hey” teriaknya dari kejauhan. Namun yang ia dapat hanya kebisuan. Ia mempercepat langkahnya untuk menghampiri sosok itu. Namun ternyata sosok itu hanyalah sebuah patung tak bernyawa. Penjelasan : pencerita dapat mengatakan apa yang sosok Angga pikirkan, itulah yang saya mahsud dengan serba tahu dan dalam penggalan cerita diatas pencerita tidak termasuk dalam tokoh. Kebalikannya, sudut pandang orang ketiga terbatas hanya dapat menceritakan tokoh-tokohnya secara objektif (hal-hal yang dilakukan tokoh) tidak dapat mengetahui pikiran dan apa yang dirasakan tokoh. Selanjutnya, adakah sudut pandang orang kedua? Mungkin anda akan berpikir kalo penggunaan cara bercerita dengan menggunakan subjek “Engkau, Kamu” maka berarti itu memiliki sudut pandang orang kedua. Tapi aslinya tidak demikian. Coba cermati dan pahami penggalan cerita di bawah : Kau terduduk lesu di sudut kamarmu, Kau menangis. Kau tahu hatimu tidak menginginkan hal ini, tapi kau tetap harus menjalaninya. Menjalani hari-hari yang menurutmu seperti neraka. Padahal kau yakin kau tidak bersalah. Kau terlalu lemah bahkan untuk mengatakan tidak kaupun tidak bisa. Hm, bagaimana bisa menyimpulkan ini termasuk sudut pandang siapa? Di sini pencerita menceritakan keadaan tokoh “Kau” dan pencerita tidak termasuk dalam cerita. Penggalan cerita diatas menggunakan sudut pandang orang ketiga diluar cerita. Namun akan berbeda jika si pencerita menyertakan dirinya dalam cerita, maka sudut pandang yang digunakan menjadi sudut pandang orang pertama. contoh : Aku melihat kau terduduk lesu di sudut kamarmu, Kau menangis. Kau tahu hatimu tidak menginginkan hal ini, tapi kau tetap harus menjalaninya. Menjalani hari-hari yang menurutmu seperti neraka. Padahal kau yakin kau tidak bersalah. Aku pun yakin kau tidak bersalah. Kau terlalu lemah bahkan untuk mengatakan tidak kaupun tidak bisa. Tapi, kenyataannya akulah yang lebih lemah, aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa melihatmu menderita.

PUISI BERANTAI

PUISI BERANTAI PANGERAN CINTA (A) A : JULEHA, WAJAHMU CANTIK BAGAIKAN BULAN DI MALAM HARI, TUBUHMU SEKSI SEPERTI BIOLA, MATAMU BERSINAR, DAN BIBIRMU INDAH MENAWAN SEPERTI …….. A : BUNGA MAWAR. HARUM SEMERBAK DI TAMAN, INDAH DI PANDANG MATA. JULEHA, ANDAI KITA MENIKAH NANTI, KAU AKAN KUBELAI, KUSAYANG, KUCIUM LALU… A : KU CUMBU PENUH KEMESRAAN. DUHAI JULEHA… ANDAI KITA MENIKAH, AKU AKAN MENGAJAKMU BERBULAN MADU. KITA BERSENANG-SENANG. MARI KITA BERBULAN MADU KE ……….. A : JULEHA, AKU CINTA PADAMU. AKU SAYANG PADAMU. TAPI HARAPANKU MUSNAH. BABEHMU GALAK, IBUMU TAK MERESTUI. AKU PUN PATAH HATI. AKU KINI SEORANG DIRI. BIARKAN AKU MATI BUNUH DIRI DAN TERKUBUR DI BAWAH TUMPUKAN…. A : TANAH AIR INDONESIA PUISI BERANTAI TUKANG TAHU (B) B : TAHU GORENG….. AKU ADALAH TUKANG TAHU. SETIAP HARI, TANPA KENAL LELAH AKU BEKERJA MEMBUAT TAHU. KUSIAPKAN ADONAN, LALU ……….. B : AKU GODOK DENGAN AIR MENDIDIH. ISI TAHUKU UNIK LOH. BIASANYA AKU ISI TAHUKU DENGAN DAGING, DENGAN BASO. BAHKAN KADANG-KADANG AKU ISI TAHUKU DENGAN…. B : GEROBAK TAHU. HARI INI GEROBAK TAHUKU RUSAK. AKU INGIN SEKALI MEMBELI GEROBAK TAHU YANG BARU. TAPI UANGKU HABIS. SUDAH DUA HARI INI AKU TIDAK MAKAN NASI. AKU SEHARI-HARI HANYA MAKAN ……. B : TAHU-TAHU BASI. KINI AKU MERANA. DAGANGANKU LUDES, BADANKU LEMES, PERUTKU MULES. AKU PUN MALES. AH… APES. SEMOGA DOAKU TERBALES. DALAM TIDURKU AKU BERDOA LIRIH… PUISI BERANTAI PEJUANG KEMERDEKAAN (C) C : KU TEMBAK DENGAN SENAPAN. PENJAJAH HARUS DIUSIR DARI NEGERI INI. UNTUK MENGUSIR MEREKA, KUSIAPKAN SENAPAN YANG CANGGIH, LALU KU ISI SENAPANKU DENGAN ……… C : PELOR. BANYAK PENJAJAH YANG BERHASIL AKU USIR. PORTUGIS KALAH KARENA KU USIR DENGAN SENAPAN, BELANDA KALAH KARENA KU USIR DENGAN BOM. DAN JEPANG KALAH KARENA …….. C : BAMBU RUNCING YANG BESAR DAN TAJAM. DADAKU BERGETAR SAAT MELAWAN PENJAJAH, DARAHKU MENGALIR PANAS MELIHAT KEKEJAMAN PENJAJAH, TEKADKU MEMBARA. AKU BERTERIAK DENGAN PENUH SEMANGAT… C : GANYANG PARA PENJAJAH, HABISI PARA PENJAJAH, LAWAN PARA PENJAJAH. HINGGA TETES DARAH PENGHABISAN, AKU AKAN TETAP BERJUANG, HANYA UNTUK TANAH TUMPAH DARAHKU…. C : TANAH AIR INDONESIA

ANALISIS PUISI "SENJA DI PELABUHAN KECIL"

SENJA DI PELABUHAN KECIL Buat Sri Aryati Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang-gudang, rumah tua , pada cerita Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada yang berlaut, Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam, ada juga kelepak elang Menyinggung muram,desir hari lari berenang Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini, tanah, air tidur, hilang ombak. Tiada lagi, aku sendiri, Berjalan Menyisir semenanjung, masih penggap harap Sekali tiba di ujung dan sekali selamat jalan Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa berdekap (Chairil Anwar,1946) A. Struktur Fisik Puisi 1. diksi (pilihan kata) Pilihan kata banyak mengunakan kata-kata yang bernada muram,dipantulkan oleh kata-kata: gudang, rumah tua, tiang , temali, kelam, laut, tidur, hilang ombak, ujung dll. 2. pengimajinasian(imagery/pencitraan) Penggunaan kata-kata yang digambarkan atas bayangan konkret apa yang kita hayati secara langsung melalui pengindraan manusia. Di antara gudang-gudang, rumah tua , pada cerita ( imaji visual penglihatan.) 3. kata konkret( penyebab terjadinya imaji) Untuk melukiskan dan menumbuhkan imajinasi dalam daya bayang pembaca, maka penyair mengkonkretkan kata-kata seperti: sepi yang mencekam, kapal tiada berlaut, gerimis mempercepat kelam, kelepak elang menyinggung kelam. 4. majas(bahasa figuratif) Gaya bahas hiperbola ditemukan pada kalimat ”dari pantai keempat sedu penghabisan bisa terdekap”. Kata ”senja” melambangkan berpisahnya suatu hubungan percintaan. ”perahu tiada berlaut” melambangkan hati yang tiada keceriaan dankegembiraan karena kehilangan cinta. 5. verifikasi(rima,ritma, metrum) Masih mengikuti pola lama. Rima akhir setiap bait( /ta-ta-ut-ut(abab) dan (/ang-ang-ak-ak(aabb), dan pada bait ketiga rima akhir berubah menjadi (abab). Ritma barupa ikatan yang mengikat bait dengan menggunakan keterangan kalimat. Pada bait pertama menggunakan frasa/ini kali/ pada bait kedua menggunakan/gerimis/ pada bait ketiga menggunakan /tiada lagi). Kata pengikat tersebut memunculkan gelombang irama baru. 6. tipografi(tata wajah) Mengunakan tipografi puisi konvenional dengan dilengkapi enyambemen berupa titik ditengah baris yang menunjukan bahwa gagasan pada suatu baris dalam puisi masih berlanjut pada baris berikutnya. Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang. B. Struktur batin puisi 1. Tema : Bertema tentang kedukaan karen kegagalan cinta atau cinta yang gagal shingga menimbulkan kedukaan. Jika kita uraikan bait demi bait, maka struktur tematik/struktur intaksis sebagai berikut: Bait I Penyair merasakan kehampaan hati karena cintanya yang hilang. Kenangan cinta sangat memukul hatinya sehingga hatinya mati setelah orang yang di cintainya pergi seperti kapal yang tidak berlaut hidupnya tiada berarti Bait II Duka hati penyair menambah kelemahan jiwa karna sepi, kelam, sehingga kelepak elang dapat didengar. Harapan bertemu dengan kekasihnya timbul tenggelam tetapi harus dilupakan karena cintanya tinggal bertepuk sebelah tangan dan menimbulkan kelukaan yang dalam Bait III Setelah mendengar Sri Ayati bahwa ia telah membunyai seorang suami hingga harapannya di pertegas dengan “sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan”. Ratap tangis menggema sampai pantai keempat. 2. Nada : Penyair menceritakan kegagalan cintanya dengan nada ratapan yang sangat mendalam, karena lukanya benar-benar sangat dalam. 3. Perasaan : Perasaan penyair pada waktu menciptakan puisi merasakan kesedihan, kedukaan, kesepian, dan kesendirian itu disebabkan oleh kegagalan cintanya dengan Sri Ayati. Bahkan sedu tangisnya menggumandang sampai ke pantai keempat karena kegagalan cintanya. Harapan untuk mendapatkan perempuan pujaannya diumpamakan sebagai ”pelabuhan cinta”. 4. Amanat : Penyair inggin mengungkapkan kegagalan cintanya yang menyebabkan seseorang seolah-olah kehilangan segala-galanya. Cinta yang sungguh-sungguh akan menyebabkab seseorang menghayati apa arti kegagalan secara total.

PEMANFAATAN WALUH (Cucurbuta moschata ex.Pair) MENJADI TEPUNG SEBAGAI PELUANG USAHA PEMBUATAN BISKUIT WALUH

PEMANFAATAN WALUH (Cucurbuta moschata ex.Pair) MENJADI TEPUNG SEBAGAI PELUANG USAHA PEMBUATAN BISKUIT WALUH PKMK 1. Rasta Maranta Rainbow Pasta Maranta: Inovasi Pangan Lokal Menuju Global (Athfal Alex Al Buntoni) 2. Metaloka Laboratorium Berjalan Inovatif (Erna Setianingsih) 3. KKJ Kamus Kedokteran Bahasa Jawa Kamus Saku Tenaga Kesehatan Jurus Jitu Telusuri Keluhan Pasien Jawa (Mariana Ulfa) 4. Edutourism English Course EEC: Bisnis Kursus Bahasa Inggris Dengan Metode Pembelajaran Wisata Budaya dan Sejarah (Mirza Praetya K) 5. Ajisaka Scrabble Aksara Jawa Sebagai Media Pelestari Budaya dan Alat Pembelajaran Aksara Jawa dengan Fun Method (Muhammad Alim Nurhalimi) 6. Bone Clinxs Groming Hewan Kesayangan (Muhammad Atma S) 7. Pelipat Baju Terapsi: Pelipat BAju Cepat Rapi dan Berseni (Nisa Salsabila Shafaruddin) 8. Srikandi Sandal dan Sepatu Wedges dengan Sol Corak Batik dari Kain Perca Khas Indonesia 9. Penambangan Pasir Zeolit di Kawasan Gunungkidul Untuk Kebutuhan Petshop (Satrio Wibowo) PKM-KC Prototype Sistem Pemantauan dan Pengawasan Wilayah Perbatasan Berbasis UAV (Unmanned Aerial Vehicle) (Fajar Aji Nugroho) PKMM 1. Kader Semut: Program Kaderisasi Kesehatan Gigi dan Mulut Untuk Guru dan Orang Tua Pada Anak Tuna Grahita di Kota Yogyakarta (Wisuka Paluphi) 2. Mahasiswa Kedokteran siap Bantu kelahiran: Kuda Sumbawa, Korps Pemuda Peduli Kesehatan Masyarakat Menengah ke Bawah (Wiwid Santika) 3. Biofertilizer Fermentatif Dari Urin Kambing PE sebagai Hasil Pengolahan Limbah Berpotensi strategis bagi Masyarakat Desa Barak 1 Margoluwih Seyegan Sleman (Yulias Anis Rahmawati) 4. Dreams The World: Upaya Tunanetra Melihat Dunia (Lintang Galih Sukma) PKMP 1. Zingiber Officinale Tanaman Herbal Kayya MAnfaat sebagai Agen Kaya Manfaat sebagai Agen Kemopreventif Pada Penderita Kanker Payudara dengan Efek Samping Minimal. Kajian Efek Sitotoksik Pada Cell Line Kanker Payudara T47D melalui Mekanisme Induksi Apoptosis Dan Antiangiogenesis (Bagas Adhimurda Marsudi) 2. Ekstrak Etanolik Kulit Kayu secang Caesalpina Sappan L. Agen Kemopreventif yang Selektif: Kajian In Vitro (Bani Adlina Shabrina) 3. Sintesis Anti Malaria N-34-Dimetoksibenzil-110 Fenantroinium Biromida dari Minyak Daun Cengkeh dan Uji Anti Malaria In Vitro Terhadap Plasmodium FCR 3 (Dhina Fitriastuti) 4. Studi Kelayakan Lava Tour Dalam Perspektif Pariwisata Berkelanjutan di Dusun Cagkringan Sleman Yogyakarta (Enggar Dwi Cahyo) 5. Aplikasi Limbah Kulit Jerk Bali Citrus Maxima Sebagai Sumber Fitoestrogen Serta Kajian Docking Terhadap AP ER dan ER (Erlina Rivanti) 6. Ekstraksi Dan Uji Stabilitas Antosianin Dari Buah Buni Antidesma Bunius L Sebagai Alternatif Pewarna Makanan Yang Aman (Fera Amelia) 7. Permen Balok Pellet: Fermentasi Bahan Pangan Lokal sebagai Alternatif Pakan Ayam Buras yang Murah, Praktis dan Alami (Luthfan) 8. Potensi Kulit Jeruk Purut Citrus Hystrix D.C. Sebagai Agen Kardio-Hepatoprotektif Pada Penekanan efek Kardio-Hepatotoksik Kemoterapi (Nindi Wulandari) 9. Bone Graft Serbuk Tulang Sapi Sebagai Inovasi Dalam Mempercepat Kesembuhan Patah Tulang Yang Diujikan Pada Anjing Canine Domesticus (Rais Dwi Abadi) PKMT 1. Automatic Pet Feeder with SMS Report (Afriyani Soraya Sari) 2. Blind Sonar Sebagai Alat Bantu Berjalan Bagi Penyandang Tuna Netra (Indra Darmawan Budi) 3. Sistem Peringatan Dini Daerah Aliran Sungai Gunung Merapi Sipeni Dari merapi: Sensor Network Sebagai Sistem Peringatan Dini Bahaya Aliran Lahar Dingin Pada Daerah Aliran Sungai Gunung Merapi (Lukman Awaludin) 4. PAPRESS: Package of Angioplasty Rehabilitation Success Solution. Pengembangan Teknologi Flash dan Modul Pembelajaran Sebagai Upaya Menyukseskan Rehabilitasi Pasien Post PTCA Percutaneus Transluminal Coronary Angioplasty (Pramana Pananja Putra) sumber: dikti.go.id SK Kemdikbud RI No: 43/DIKTI/Kep/2012 A. JUDUL PROGRAM PEMANFAATAN WALUH (Cucurbuta moschata ex. Pair) MENJADI TEPUNG SEBAGAI PELUANG USAHA PEMBUATAN BISKUIT WALUH. B. LATAR BELAKANG MASALAH Tingkat kesehatan masyarakat tergantung pada kualitas makanan yang dikonsumsi setiap hari, yaitu jenis maupun jumlah gizi yang disediakan makanan bagi tubuh. Kualitas makanan tidak terletak pada kelezatan cita rasa atau penempilannya, namun pada jenis atau kandungan gizi yang terkandung di dalamnya. Manusia membutuhkan zat-zat gizi antara lain protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Unsur-unsur gizi tersebut tidak dapat disediakan secara lengkap dalam satu jenis makanan, maka untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia perlu mengkonsumsi beberapa jenis makanan atau minuman secara bersamaan dan bervariasi. Penganekaragaman dan peningkatan gizi makanan perlu didukung dengan penyediaan produk-produk makanan yang memiliki kandungan gizi cukup tinggi dengan harga terjangkau. Buah waluh mengandung unsur gizi cukup lengkap, sementara harganya terjangkau oleh lapisan masyarakat bawah sehingga memungkinkan untuk dikembangkan untuk menjadi produk pangan. Keistimewaan lain dari waluh adalah dapat ditanam di lahan-lahan yang kering atau tegalan. Waluh merupakan salah satu komoditas pertanian yang benyak mengandung β-karoten atau provitamin-A yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu waluh juga mengandung zat gizi seperti protein; karbohidrat; beberapa mineral seperti kalsium, fosfor, besi; serta beberapa vitamin yaitu vitamin B dan C. Kandungan gizi yang dimiliki waluh menjadikannya sebagai sumber pangan yang cukup potensial untuk dikembangkan dan dapat diandalkan. Salah satunya dapat dimanfaatkan menjadi tepung waluh yang kemudian dapat digunakan dalam pembuatan biskuit waluh. Tepung waluh mengandung karbohidrat yang tinggi sehingga sangat berperan dalam pembuatan adonan pati. Selain itu tepung waluh mempunyai kualitas tepung yang baik karena sifat gelatinisasi yang baik, sehingga dapat membentuk adonan dengan konsistensi, kekenyalan, viskositas, maupun 3 elastisistas yang baik, dengan demikian biskuit yang diproduksi dengan menggunakan tepung waluh akan berkualitas baik pula. Dari kelebihan tersebut maka biskuit waluh memiliki peluang usaha yang cukup tinggi karena belum banyak diproduksi biskuit yang menggunakan bahan dari tepung waluh sehingga prospek keberhasilan usaha cukup menjanjikan. C. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah diuraiakan di atas, maka permasahan yang dibahas dalam program ini adalah: a. Bagaimana cara memanfaatkan hasil pertanian lokal yang berlimpah (waluh) menjadi sesuatu produk yang bernilai ekonomi tinggi? b. Bagaiman cara pembuatan tepung waluh? c. Bagaimana cara pembuatan biskuit waluh? d. Bagaimana menciptakan peluang usaha dari produksi biskuit waluh? e. Bagaiman cara mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari hasil usaha penjualan produk biskuit waluh? D. TUJUAN PROGRAM Tujuan program yang hendak dicapai adalah sebagai berikut : a. Memberikan pengetahuan dan pengenalan kepada masyarakat bahwa waluh (Cucurbuta moschata ex. Pair) dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan pembuatan biskuit. b. Menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa untuk mendorong terciptanya wirausaha baru dengan memanfaatkan hasil tanaman lokal waluh sebagai produk biskuit waluh. c. Berorientasi pada profit, sebagai layaknya wirausahawan. d. Untuk mengetahui prospek usaha biskuit waluh di lingkungan kampus dan tempat distribusi yang lain. e. Untuk memanfaatkan hasil tanaman lokal yang berlimpah menjadi produk olahan yang bernilai ekonomi tinggi. 4 E. LUARAN YANG DIHARAPKAN Luaran yang diharapkan dalam program ini adalah : a. Terciptanya peluang usaha mandiri yang bergerak disektor home industri yang mengacu pada bidang kesehatan. b. Meningkatkan karya kreatifitas inovatif mahasiswa dalam rangka bereksperimen dan menemukan hasil karya yang bermanfaat dan tepat guna. F. KEGUNAAN PROGRAM Adapun kegunaan program yang dimaksud adalah : a. Meningkatkan inovatif mahasiswa dalam menemukan hasil karya yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha. b. Untuk meningkatkan kreatifitas dan penalaran pada pengembangan ilmu teknologi pangan. c. Memperkenalkan kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan hasil pertanian yang melimpah / waluh sebagai produk olahan tepung waluh yang dijadikan peluang usaha biskuit waluh. G. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA 1. Prospek Pengembangan Biskuit Waluh sebagai Makanan Ringan Biskuit waluh merupakan suatu produk olahan dari pemanfaatan tepung waluh. Hal ini terbukti dari kandungan gizi yang ada yaitu adanya protein, karbohidarat yang cukup tinggi, dan adanya beberapa enzim seperti amylase, protease, lipase, dan oksidase. Biskuit waluh dapat dijadikan sebagai peluang usaha yang menjanjikan karena untuk memperoleh atau menanamnya juga mudah, harga untuk mendapatkannya juga murah, mengandung vitamin A yang tinggi sehingga bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata. Biskuit waluh memiliki peluang usaha yang cukup tinggi terutama di daerah Sekaran Gunungpati dan sekitarnya. Hat tersebut dikarenakan beberapa alasan diantaranya: (1) Di Sekaran Gungungpati belum pernah ada usaha yang memproduksi waluh sebagai biskuit waluh sebagai usaha. (2) Bahan baku mudah diperoleh sehingga ketersediannya cukup terpenuhi. (3) Proses produksi tidak membutuhkan biaya besar, mudah, dan praktis. (4) Dalam proses produksi tidak 5 membutuhkan keahlian khusus. (5) Dalam hal konsumen, didukung dengan oleh banyaknya orang dewasa dan remaja khususnya di daerah Sekaran Gunungpati dan sekitarnya yang menggemari makanan ringan sebagai camilan sehat. Untuk itu dengan adanya gagasan memproduksi biskuit waluh ini diharapkan dapat menambah jenis keanekaragaman hasil olahan buah waluh dan dapat dijadikan suatu peluang usaha yang baru khususnya bagi mahasiswa. 2. Keunggulan Biskuit Waluh a. Bahan baku mudah didapat dari petani lokal dengan harga yang relatif murah. b. Buah waluh mengandung vitamin A yang lebih banyak sehingga baik untuk kesehatan mata. c. Buah waluh memiliki kadar karbohidrat yang tinggi. d. Biskuit waluh merupakan sumber vitamin A dengan kandungan β-karoten yang sangat tinggi. e. Biskuit waluh lebih murah harganya kerena sebagian bahan yang berupa tepung terigu digantikan dengan tepung waluh. f. Biskiut waluh memiliki kandungan lemak yang rendah. 3. Keterkaitan dengan Produk Lain Termasuk Perolehan Bahan Baku Perolehan bahan biskuit waluh sangat mudah didapat. Karena banyak petani lokal membudidayakan buah waluh yaitu dari daerah Gunung Pati Semarang. Hal tersebut berdasarkan lokasinya dekat dengan tempat produksi/ tempat usaha, harganyapun relatif murah.. Sehingga ketersediaan bahan baku yang memadai dapat menjamin kelangsungan usaha pembuatan biskuit waluh. 4. Peluang Usaha Biskuit waluh mempunyai prospek usaha yang menjamin , karena di Sekaran Gunung Pati Semarang belum pernah ada yang mencoba mengembangkan Home Industri biskuit waluh, oleh karena itu peluang pasarnya masih cukup tinggi. 5. Media Promosi yang Digunakan Untuk menunjang proses pemasaran, ada beberapa alternatif yang bisa digunakan untuk mempromosikan produk ini, sehingga lebih dikenal oleh masyarakat dan menjadi pilihan masyarakat. Media ini berupa, pamflet, spanduk, leaflet serta untuk pertama kali penjualan akan dibagikan secara gratis. 6 6. Strategi Pemasaran yang Akan Diterapkan Strategi pemasaran yang digunakan dalam usaha Home Industri biskuit waluh: a. Kebijakan Produk Usaha ini bergerak dalam bidang produksi dan distribusi. Jenis produk ini berupa biskuit waluh. b. Kebijakan Harga Harga yang diberikan kepada konsumen yaitu sebesar Rp. 3.500,00 per bungkusnya. c. Kebijakan Promosi Untuk meningkatkan hasil penjualan biskuit waluh perlu dilakukan promosi. Bentuk promosi ini diantaranya yaitu pemasangan pamflet, spanduk, penyebaran leaflet, serta untuk promosi awal, produk ini akan dibagikan secara cuma-cuma atau gratis. d. Kebijakan Distribusi Distribusi hasil produksi kepada para konsumen dilakukan kerjasama dengan mitra distribusi Mini Market kawasan UNNES. 7. Rencana Produksi Selama Empat Bulan Rencana produksi biskuit waluh adalah sebagai berikut : a. 2 Minggu : 40 bungkus b. 4 Bulan : 8 x 40 = 320 bungkus Harga biskuit waluh adalah Rp. 3.500,00 8. Analisa Keuangan Investasi awal yang diperlukan: Tabel 1. Investasi Awal 1 Timbangan 1 @ 200.000,00 Rp. 200.000,00 2 Timbangan roti 1 @ 50.000,00 Rp. 50.000,00 3 Pisau 4 @ Rp. 5.000,00 Rp. 20.000,00 4 Telenan 3 @ Rp. 4.000,00 Rp. 12.000,00 5 Baskom 4 @ Rp. 50.000,00 Rp. 200.000,00 6 Centong 2 @ Rp. 2.000,00 Rp. 4.000,00 7 Loyang alumunium 6 @ Rp. 10.000,00 Rp. 60.000,00 8 Blender 2 @ Rp. 150.000,00 Rp. 300.000,00 9 Ayakan 2 Rp. 10.000,00 Rp. 20.000,00 10 Plastik 1 @ 5.000,00 Rp. 5.000,00 7 11 Mixser 1 @ Rp. 250.000,00 Rp. 250.000,00 12 Kompor 1 @ Rp. 150.000,00 Rp. 150.000,00 13 Oven 1 @ 500.000,00 Rp. 500.000,00 14 Kuas kue 2 @ Rp. 2.000,00 Rp. 4.000,00 15 Kas Usaha Rp. 600.000,00 Jumlah Investasi Awal Rp 2.375.000,00 9. Biaya Operasional Per Bulan Tabel 2. Biaya Operasional Per Bulan 1 Waluh basah 2 kg @ Rp. 3.000,00 Rp. 6.000,00 2 Tepung terigu 2 kg @ Rp. 7.000,00 Rp. 14.000,00 3 Tepung maizena 1,2 kg @ Rp. 8.000,00 Rp. 9.600,00 4 Mentega 0,4 kg @ Rp. 15.000,00 Rp. 6.000,00 5 Gula halus 1,6 kg @ Rp. 6.500,00 Rp. 10.400,00 6 Telur ayam 2 kg @ Rp. 14.000,00 Rp. 28.000,00 7 Soda kue 4 sdt Rp. 2.000,00 8 Minyak Tanah 12 Liter @ Rp. 4.500,00 Rp. 54.000,00 9 Beban Transportasi Rp. 30.000,00 10 Beban Promosi Rp. 10.000,00 11 Beban Listrik Rp. 10.000,00 Jumlah Investasi Awal Rp. 180.000,00 10. Analisis Pendapatan dan Keuangan Produksi 1 bulan = 80 bungkus Produksi 4 bulan : 4 x 80 = 320 bungkus Harga biskuit waluh yang ditawarkan = Rp. 3.500,00 per bungkus Hasil penjualan 4 bulan = 320 x Rp. 3.500,00 = Rp. 1.120.000,00 Total biaya operasional 4 bulan = 4 x Rp. 180.000,00 = Rp. 720.000,00 Keuntungan tiap 4 bulan = Rp. 1.120.000,00 – Rp. 720.000,00 = Rp. 400.000,00 H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM Pelaksanaan program usaha biskuit waluh ini terdiri atas dua proses yaitu pembuatan tepung dan pembuatan biskuit waluh. Proses pembuatan tepung waluh terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan alat dan bahan, pembuatan tepung waluh dan pengemasan. Sedangkan pembuatan biskuit waluh terdiri dari 4 tahap, yaitu 8 persiapan alat dan bahan, pembuatan biskuit waluh, pengemasan produk dan pemasaran. 1. Proses Pembuatan Tepung Waluh 1) Persiapan Alat dan Bahan Sebelum membuat tepung waluh, langkah awal yang akan kita lakukan adalah mempersiapkan alat dan bahan. Hal itu dilakukan agar dapat memperlancar proses pembuatan tepung waluh sehingga dapat diolah menjadi biskuit. Adapun tahap persiapan alat dan bahan meliputi: a. Persiapan alat: Timbangan : 1 buah Pisau : 4 buah Telenan : 3 buah Baskom : 4 buah Centong : 2 buah Loyang alumunium : 6 buah Blender : 2 buah Ayakan : 2 buah Plastik : 1 pak b. Persiapan Bahan Baku Tepung Waluh Waluh : 2 kg 2) Pembuatan Tepung Waluh a. Waluh dipotong-potong membujur menjadi ± 8 potong. b. Waluh yang sudah dipotong dicucu dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada kulit buah. Pencucian dilakukan hingga benar-benar bersih. c. Waluh dihilangkan biji dan serabutnya serta dikupas kulitnya sampai bersih. d. Setelah dikupas kulitnya dipotong-potong tipis dan kecil dengan tujuan mempercepat proses pengeringan. e. Waluh dikeringkan dengan tenaga surya selama 4-6 hari (tergantung pada cuaca) f. Potongan waluh yang sudah kering segera digiling atau dihancurkan menggunakan blender hingga hancur menjadi bubuk atau tepung. 9 g. Tepung waluh hasil penghancuran kemudian diayak dengan saringan berukuran lubang 60 mesh. h. Tepung yang lolos ayakan ditampung dalam tempat sendiri, sementara yang tidak lolos digiling lagi hingga lolos ayakan. Usahakan sedikit mungkin tepung waluh yang tersisa (tidak lolos ayakan). 3) Pengemasan Tepung Waluh Tepung waluh hasil pengayakan harus segera dikemas dalam kantong plastik. 2. Proses Pembuatan Biskuit Waluh 1) Persiapan Alat dan Bahan Sebelum membuat usaha biskuit waluh, langkah awal yang akan kita lakukan adalah mempersiapkan alat dan bahan. Hal itu dilakukan agar dapat memperlancar proses produksi biskuit waluh sehingga dapat diterima oleh konsumen. Selain itu kelengkapan alat dan bahan dapat menjadi indikator keberhasilan proses produksi yang berkualitas dan memiliki cita rasa yang disukai. Adapun tahap persiapan alat dan bahan meliputi: a. Persiapan alat: Timbangan : 1 buah Mixser : 1 buah Oven : 1 buah Loyang : 6 buah Baskom : 4 buah Kuas kue : 2 buah Kompor : 1 buah b. Persiapan Bahan Baku Biskuit Waluh Tepung terigu : 2 kg Tepung waluh : 1 kg Tepung maizena : 1,2 kg Mentega : 0,4 kg Gula halus : 1,6 kg Telur ayam : 2 kg Soda kue : 4 sdt 10 2) Pembuatan Biskuit Waluh a. Mentega dan gula halus dikocok hingga putih. Kemudian telur dimasukkan sambil terus dikocok hingga menjadi adonan yang mengembang. b. Tepung terigu, tepung waluh, dan tepung maizena dicampur rata, kemudian sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam adonan dan diaduk hingga tercampur rata. c. Selanjutnya adonan dicetak dengan cetakan biskuit. d. Pada bagian permukaan adonan yang telah dicetak diolesi dengan sedikit mentega. e. Adonan dalam loyang dipanggang dalam oven dengan suhu 170 oC selama 20 menit hingga matang. Selanjutnya dikeluarkan dan didinginkan 3) Pengemasan Biskuit Waluh Biskuit waluh yang telah didinginkan sebaiknya segera dikemas agar tetap renyah. Pengemasan menggunakan mika. 4) Pemasaran Terlampir I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM Tabel 3. Jadwal Kegiatan Program Bulan No. Kegiatan I II III IV 1 Persiapan dan Pengadaan Bahan XX 2 Uji Coba Pembuatan dan uji Panelis X 4 Pembuatan Biskuit waluh X 6 Promosi XX 7 Pemasaran X XXXX 8 Pembuatan Laporan XX 9 Penyerahan Laporan Akhir X J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK Ketua Pelaksana Kegiatan Nama : Novan Tri Maulanta NIM : 6450405232 Fakultas/ Jurusan : FIK/ Ilmu Kesehatan Masyarakat 11 Semester : VII (tujuh) Waktu untuk Kegiatan PKM : 3 jam / minggu No. Telepon/HP : 085645327820 E-mail : - Anggota pelaksana Anggota 1 Nama : Maria Purna Rosari Kuswardhani NIM : 6450405223 Fakultas/ Jurusan : FIK/ Ilmu Kesehatan Masyarakat Semester : VII (Tujuh) Waktu untuk Kegiatan PKM : 3 jam / minggu No. Telepon/HP : 08563658526 E-mail : purnarosa@yahoo.co.id Anggota 2 Nama : Devy Ayu Trisnawati NIM : 6450405231 Fakultas/ Jurusan : FIK/ Ilmu Kesehatan Masyarakat S1 Semester : VII (Tujuh) Waktu untuk Kegiatan PKM : 3 jam / minggu No. Telepon/HP : 085640330466 E-mail : dv_iu@yahoo.co.id Anggota 3 Nama : Kriti Sandi Yunika NIM : 3301405515 Fakultas/ Jurusan : FE/ Akuntansi Semester : VII (Tujuh) Waktu untuk Kegiatan PKM : 3 jam / minggu No. Telepon/HP : 085729225746 E-mail : - Anggota 4 Nama : Ayu Lidya Widyasmara NIM : 6450407047 12 Fakultas/ Jurusan : FIK/Ilmu Kesehatan Masyarakat Semester : III (Tiga) Waktu untuk Kegiatan PKM : 3 jam / minggu No. Telepon/HP : 085641718670 E-mail : - K. NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING 1. Nama : Widya Harry Cahyati S,KM, M.kes 2. Golongan Pangkat dan NIP : Penata Muda/III A dan 132 308 386 3. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli 4. Jabatan Struktural : - 5. Fakultas/ Program studi : Ilmu Keolahragaan/ Ilmu Kesehatan Masyarakat 6. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang 7. Bidang Keahlian : Ilmu Kesehatan Masyarakat 8. Waktu untuk Kegiatan PKM : 4 (empat) bulan L. BIAYA 1. Rekapitulasi Biaya Tabel 4. Rekapitulasi Biaya No. Jenis Pengeluaran Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. Pembuatan Biskuit waluh Dokumentasi Transportasi Penyusunan Laporan Lain-lain Rp 1.955.000,00 Rp. 730.000,00 Rp. 850.000,00 Rp. 730.000,00 Rp. 435.000,00 2. Pembuatan Biskuit Waluh Tabel 5. Kebutuhan dalam Pembuatan Biskuit Waluh 1 Timbangan 1 @ 200.000,00 Rp. 200.000,00 2 Timbangan roti 1 @ 50.000,00 Rp. 50.000,00 3 Pisau 4 @ Rp. 5.000,00 Rp. 20.000,00 4 Telenan 3 @ Rp. 4.000,00 Rp. 12.000,00 5 Baskom 4 @ Rp. 50.000,00 Rp. 200.000,00 6 Centong 2 @ Rp. 2.000,00 Rp. 4.000,00 7 Loyang alumunium 6 @ Rp. 10.000,00 Rp. 60.000,00 8 Blender 2 @ Rp. 150.000,00 Rp. 300.000,00 9 Ayakan 2 Rp. 10.000,00 Rp. 20.000,00 13 10 Plastik 1 @ 5.000,00 Rp. 5.000,00 11 Mixser 1 @ Rp. 250.000,00 Rp. 250.000,00 12 Kompor 1 @ Rp. 150.000,00 Rp. 150.000,00 13 Oven 1 @ 500.000,00 Rp. 500.000,00 14 Kuas kue 2 @ Rp. 2.000,00 Rp. 4.000,00 15 Beban Transportasi Rp. 30.000,00 16 Beban Promosi Rp. 10.000,00 17 Beban Listrik Rp. 10.000,00 18 Bahan Baku Rp. 130.000,00 Jumlah Total Rp. 1.955.000,00 Dokumentasi Sewa Kamera Digital : Rp. 100.000,00 Cuci Cetak Digital : Rp. 250.000,00 Sewa Handy Cam : Rp. 100.000,00 Kaset Handy Cam : Rp. 80.000,00 Pindah data ke CD : Rp. 200.000,00 Jumlah Rp. 730.000,00 Transportasi 1). Pra Kegiatan : Rp. 250.000,00 2). Pelaksanaan Kegiatan : Rp. 400.000,00 3). Pasca Kegiatan : Rp. 200.000,00 + Jumlah Rp. 850.000,00 Penyusunan Laporan 1) Sewa Komputer : Rp.150.000,00 2). Kertas A4 2 @ Rp. 35.000.00 : Rp. 70.000,00 3). Tinta Printer 2 @ Rp. 30.000.00 : Rp. 60.000,00 4). Penggandaan : Rp.200.000,00 5). Pengarsipan : Rp.250.000,00+ Jumlah Rp.730.000,00 Lain- lain Rp.435.000,00 + Jumlah Pengeluaran Rp.4.700.000,00 14 LAMPIRAN I. DAFTAR RIWAYAT HIDUP 1. Nama : Novan Tri Mailanta Tempat Tanggal Lahir : Ngawi, 13 November 1986 No. Tep./HP : 085645327820 Karya yang pernah diikuti : - 2. Nama : Maria Purna Rosari Kuswardhani Tempat Tanggal Lahir : Ngawi, 31 Oktober 1986 No. Tep./HP : 08563658526 Karya yang pernah diikuti : - 3. Nama : Devy Ayu Trisnawati Tempat Tanggal Lahir : Ngawi, 2 Oktober 1986 No. Tep./HP : 085640330466 Karya yang pernah diikuti : - 4. Nama : Kriti Sandi Yunika Tempat Tanggal Lahir : Jombang, 24 Juni 1986 No. Tep./HP : 085729225746 Karya yang pernah diikuti : - 5. Nama : Ayu Lidya Widyasmara Tempat Tanggal Lahir : Blora, 8 April 1989 No. Tep./HP : 085641718670 Karya yang pernah diikuti : - II. PEMASARAN Setelah biskuit waluh memasarakan biskuit waluh kepada masyarakat/ konsumen sasaran. Harga biskuit waluh per bungkus dijual dengan harga Rp.3.500,00 pemasaran dilakukan melalui kerjasama dengan mitra kerja dimana mitra yang diperlukan untuk pemasaran yaitu Mini Market kawasan UNNES. Selain itu untuk konsumen yang menginginkan pemesanan biskuit waluh dalam jumlah yang besar bisa langsung menghubungi tempat produksi yang telah tercantum dalam pamflet dan leaflet yang telah disebarkan. 15 Biskuit waluh yang kita tawarkan ini memiliki rasa yang kita sesuaikan dengan selera konsumen. Maka dari itu biskuit waluh ini mempunyai nilai khas tersendiri karena di daerah sekaran Gunungpati Semarang belum pernah ada yang mencoba biskuit waluh ini di pasaran. Diagram 1. Alur Distribusi dari Produsen ke Konsumen III.GAMBAR PETA TEMPAT PRODUKSI DAN PEMASARAN Gambar I. Peta Tempat Produksi dan Pemasaran Produsen Kerjasama dengan Mitra Konsumen Promosi BNI Perempatan Ungaran Tempat Produksi Kampus FIK Pasar GP Sumur Jurang B T

Strategi Pengembangan Kaligua menjadi Kawasan Pengembangan Olahraga Berbasis Pariwisata (Sport and Tourism Center) di Kabupaten Brebes

RINGKASAN Daimatul Munajah. 2009. Strategi Pengembangan Kaligua menjadi Kawasan Pengembangan Olahraga Berbasis Pariwisata (Sport and Tourism Center) di Kabupaten Brebes. PKM-GT. Pembimbing : Bambang Purwanto, S.S, M.Hum. Olahraga memiliki peran strategis terhadap pembinaan fisik bagi kesehatan manusia. Pengembangan dunia olahraga membutuhkan dukungan fasilitas sarana dan prasarana penunjang olahraga. Namun, keberadaan sarana olahraga di Indonesia masih sangat terbatas. Pada sisi lain, Kabupaten Brebes terdapat kawasan Kaligua yang merupakan perkebunan teh dan kawasan wisata agro dataran tinggi. Dalam konteks pengembangan sarana olahraga luar ruang, Kaligua memiliki potensi strategis bagi pengembangan olahraga seperti sepak bola, voli, para layang, climbing, sampai dengan bilyard. Kawasan ini dapat pula menjadi salah satu daerah potensial bagi pengembangan pariwisata olahraga di Jawa Tengah. Rumusan masalah yang dikaji dalam karya tulis ini adalah Bagaimana potensi serta strategi pengembangan Kaligua menjadi kawasan pengembangan olahraga berbasis pariwisata (sport and tourism center) di Kabupaten Brebes? Tujuan penulisan adalah mendeskripsi potensi pengembangan Kaligua menjadi kawasan pengembangan olahraga berbasis pariwisata (sport and tourism center) di Kabupaten Brebes serta mendeskripsi strategi pengembangan Kaligua menjadi kawasan pengembangan olahraga berbasis pariwisata (sport and tourism center) di Kabupaten Brebes. Telaah pusataka yang dirujukan mencakup paparan tentang pengembangan industri olahraga , kawasa Kaligua, serta Analisis SWOT. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah metode deskriptif berdasarkan kajian pustaka yang diharapkan dapat memberikan gambaran secara jelas dan cermat mengenai objek kajian. Sumber data meliputi (1) jurnal ilmiah, (2) buku-buku yang relevan dengan topik penulisan, (3) karya tulis ilmiah, dan (4) rujukan dari internet. Analisis dan sintesis berisi deskripsi tentang (1) Potensi pengembangan Kaligua menjadi kawasan pengembangan olahraga berbasis pariwisata (sport and tourism center) di Kabupaten Brebes yakni Pengembangan olahraga permainan, olahraga atletik, olahraga rekreasi, olahraga Air, dan Training Center atlet (2) Strategi pengembangan Kaligua menjadi kawasan pengembangan olahraga berbasis pariwisata (sport and tourism center) di Kabupaten Brebes meliputi strategi analisis SWOT yang dijabarkan melalui strategi S-O, S-T, W-O, dan W-T Paparan mengenai Potensi pengembangan Kaligua menjadi kawasan pengembangan olahraga berbasis pariwisata (sport and tourism center) di Kabupaten Brebes dapat dijadikan solusi berkenaan dengan pengembangan industri olahraga dan pariwisata di Kabupaten Brebes serta merealisasikan pengembangan industri olahraga berbasis pariwisata guna peningkatan taraf hidup masyarakat dan pembinaan dunia keolahragaan di Indonesia. Kata Kunci: strategi pengembangan, kaligua, sport and tourism center Lampiran I BIODATA DOSEN PENDAMPING Nama : Bambang Purwanto, S.S., M.Hum. NIP : 197807282008121001 Jabatan Struktural : Dosen Bahasa Inggris Fakultas/jurusan : FBS/ Bahasa dan Sastra Inggris Perguruan Tinggi : UNNES Alamat : JL Cinde Utara VI/21 A Semarang, Telepon 081390223561 BIODATA PENULIS 1. Nama : Daimatul Munajah TTL : Rembang, 8 Februari 1989 NIM : 2201407121 Prodi : Pendidikan Bahasa Inggris Jurusan : Bahasa dan Sastra Inggris Daftar Publikasi : 1) Kereta Api Sebagai Ruang Sosialisasi Kebijakan Publik (Juara 3 Bidang Material, energi dan Lingkungan, LKTIP Jateng, 2008) 2) Pemanfaatan Sepak Bola sebagai Media Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV SDN Sridadi I Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes (Finalis LKIO Menpora 2008) 3) Pemimpin Muda, Kenapa Eggak??? (Juara 2 Ling Art Essay Competition 2008) 4) Trans Toilet sebagai Solusi cepat defekasi sehat (Juara 1 Bidang Mipa KKTM-GT Bidang Mipa, FBS Unnes, 2009) 2. Nama : Saeful Aziz NIM : 2101406667 Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas : UNNES Alamat : Jl. Candi Arca Wanatirta Paguyangan Brebes Daftar Publikasi : 1. Trans Toilet sebagai Solusi cepat defekasi sehat (Juara 1 Bidang Mipa KKTM-GT Bidang Mipa, FBS Unnes, 2009) 2. Studi ML (Musik Lapar) sebagai alternatif Pemberdayaan Ekonomi Mahasiswa (Juara 1 bidang Sosial KKTM-GT FBS UNNES 2009) 3. Nama : M. Nasir A. NIM : 2150405002 Fakultas/Program studi : Bahasa dan Seni/ Sastra Indonesia Perguruan tinggi : Universitas Negeri Semarang 1. Pengaruh Sepak Bola terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV SDN Sridadi I Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes, (Finalis Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian, 2007) 2. Saatnya Pemuda Potong Generasi Negeri Ini (Lomba Artikel Kepemudaan Menpora, 2006) 3. Lampu Perangkap sebagai Metode Pemberantasan Hama pada Tanaman Bawang Merah (Juara 1 KKTM Bidang IPA tingkat FBS, 2008) 4. Kereta Api sebagai ruang sosialisasi kebijakan publik (Juara 3 Bidang Material, energi dan Lingkungan, LKTIP Jateng, 2008) 5. Spanduk Reklame Warung dan Visualisasi pada Body Kendaraan Umum Sebagai Media Sosialisasi Pemilu (Juara 2 Bidang sosial OIM Jurusan BSI, 2008). 6. Pemanfaatan Sepak Bola sebagai Media Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV SDN Sridadi I Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes (Finalis LKIO Menpora 2008) 7. Studio Musik Lapar sebagai alternatif pemberdayaan ekonomi mahasiswa (Juara 1 Bidang Sosial Ekonomi KKTM-GT, FBS, 2009) 8. Trans Toilet sebagai Solusi cepat defekasi sehat (Juara harapan 1 Mahasiswa Berprestasi FBS Unnes, 2009) Lampiran 2 KAWASAN KALIGUA