Alam

Loading...

Kamis, 03 Mei 2012

Malam Lebaran


Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan
                       Karya : Sitor Situmorang

Parafrase
Salah satu puisi yang paling banyak diperdebatkan maknanya adalah “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisinya cuma sebaris, “bulan di atas kuburan”. Pertama puisi itu sangat pendek. Kedua, malam lebaran yang berarti malam 1 Syawal, adalah saat di mana bulan sama sekali tidak kelihatan.

Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Kalau kita perhatikan dengan saksama, larik pendek itu tak bisa dipisahkan dari judulnya. Secara sederhana, puisi tersebut bisa kita parafrasekan menjadi : //Pada malam lebaran, ada rembulan di atas kuburan//.

Dalam penafsiran awam, setidaknya ada tiga frasa dan kata kunci yang hendak ditekankan oleh penyair kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu, yakni “malam lebaran”, “rembulan”, dan “di atas kuburan”. Dari sisi logika, larik puisi ini jelas absurd, mustahil, dan tak masuk akal. Rembulan tak mungkin muncul pada malam lebaran, bukan? Namun, sesungguhnya larik tersebut tak bisa hanya sebatas kita maknai secara harfiah. Ada nilai-nilai kehidupan yang serba kontradiktif yang hendak didedahkan sang penyair.

Dari sana, terjadilah kontroversi. Sitor dianggap tidak memahami penanggalan Islam. Meskipun dunia puisi mementingkan imajinasi, bagaimanapun, puisi tetap bertanggung jawab atas logika puisi itu sendiri. Fakta alam menyatakan, bahwa pada malam lebaran, bulan belum muncul. Oleh karena itu, pernyataan Malam Lebaran/ Bulan di atas kuburan, melanggar logika umum. Ia menyatakan sesuatu yang tak mungkin terjadi.

Dalam kasus puisi Malam Lebaran, latar belakang peristiwanya terjadi pada malam lebaran ketika Sitor hendak berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Ia lewat dekat kuburan. Jadilah kemudian ada “Malam Lebaran” dan “kuburan”. Di tangan penyair sekelas Sitor, peristiwa itu niscaya sangat menggoda dan menggelisahkannya. Dengan kepiawaiannya membangun simbolisme dan kekuatan menciptakan citraan, peristiwa itu mesti direkam dan dinyatakan menjadi sesuatu yang mempesona dan menakjubkan. Maka, untuk memperkuat kesan yang lebih dalam, diperlukan sebuah simbol yang dapat mendukung citraan yang mewartakan kesepian dan keterasingan sebagai pesannya. Dan kata bulan itulah pilihannya. Maka, lahirlah kemudian sebuah puisi pendek: Bulan di atas kuburan// Sebuah puisi yang memancarkan kekuatan citraan yang begitu hidup dan sekaligus juga menyimpan kekayaan simbolisme.

Lebaran adalah hari kemenangan, tetapi juga kekalahan; kekalahan bagi yang tak berhasil meningkatkan barang segaris kualitas kemanusiaannya, juga kekalahan bagi yang tak bisa membelikan barang sepotong baju baru untuk anaknya.

Hari kemenangan itu telah menjadi beban, karena terjadi pengeluaran besar-besaran. Ironis, ketika hari kemenangan justru disambut dengan kepanikan, kenaikan harga-harga barang, dan penambahan saldo utang.

Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa. Hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat “pembebasan” itu. Semua orang, apa pun pangkat dan kedudukannya, baju politik warna apa pun yang dipakai, atau status sosial keseharian apa pun yang disandangnya, (nyaris) semuanya tak melewatkan momentum yang sarat berkah dan maghfirah itu. Tak salah kalau Sitor Situmorang menggunakan kata simbolik “bulan” sebagai ikon kebahagiaan dan kemeriahan.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu. Mereka tak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan “memaksa” mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam “kamus” hidupnya. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu; tak ubahnya menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Tak salah juga kalau Sitor Situmorang menggunakan frasa “di atas kuburan”.

Begitulah, idealnya lebaran juga perlu dijadikan sebagai momentum untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Konon, di balik kekayaan dan penghasilan yang kita miliki ada hak juga bagi fakir miskin dan anak-anak telantar. Bahkan, mereka yang suka mengemplang dan mencuri harta rakyat dan negara, lebaran perlu dimaknai sebagai momentum pertobatan untuk mengembalikan kekayaan yang mereka peroleh secara tidak sah kepada negara, tanpa harus menunggu diserbu KPK. Cara semacam ini akan lebih terhormat daripada dipaksa harus memakai seragam koruptor versi KPK.

Segala hal telah berkiblat kepada kebendaan. Tak ada lagi yang peduli menyelami, apa yang semestinya terjadi di Idul Fitri. Apakah merenungi, menelanjangi jiwa sendiri, atau ke sana ke mari wara-wiri dengan baju baru dan gemerlap perhiasan warna-warni. Mengapa menjelang hari itu segalanya justru menjadi sesak; mall, pasar tradisional, toko sembako, seperti sesaknya dada si fakir yang tak tau harus membelanjakan apa menyambut hari raya, sesak pengap membekap, padahal namanya lebaran, bukan sempitan.

Bisa jadi, penafirsan “selengekan” semacam ini jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang. Namun, sebagai genre sastra, puisi yang multitafsir bisa dimaknai secara personal oleh apresiannya.

Mereka yang menganut paham naturalisme dan positivisme meyakini Sitor pasti telah melakukan kesalahan. Mana mungkin dia dapat melihat bulan pada malam lebaran? Bukankah pada malam itu bulan tidak dapat dilihat mata telanjang, sehingga para penentu saat akhir masa puasa harus menggunakan teropong untuk menentukan apakah bulan sudah muncul. Kesimpulannya: Sitor ngaco.

Lain lagi dengan pendapat kritikus yang menganut paham simbolik. Menurut mereka Sitor tidak melaporkan keadaan alam empirik lewat puisi itu. Benda-benda yang disebut dalam selarik puisi itu adalah simbol dari hal lain. Lantas, para penganut paham ini membuat penyejajaran antara malam dengan kuburan, serta Lebaran dengan bulan. Malam dan kuburan dianggap memiliki kesejajaran kualitas: gelap, hitam, kotor; sementara bulan dan lebaran berkonotasi pada: terang, putih, bersih. Dalam puisi tersebut kedua kualitas tersebut diperantarai oleh kata “di atas.” Dengan demikian, secara keseluruhan puisi Sitor yang paling ekonomis itu bermakna (dimaknai): terang (putih/bersih/suci) di atas (mengatasi) gelap (hitam/kotor/dosa).

Di tengah kontroversi tersebut, Sitor pun bercerita bahwa suatu malam ia berjalan kaki hendak menuju rumah Pramoedya Ananta Toer, dan ternyata ia tersesat. Di saat tersesat itu, ia melihat sebuah tembok putih. Ia penasaran; apa yang ada di balik tembok itu. Maka, Sitor pun lantas naik di atas batu di dekat tembok, dan melongok: “… Oo… kuburan.” Kemudian ia turun dan melanjutkan jalan kakinya mencari rumah Pram. Rupanya pengalaman menemukan tembok putih, melongok, dan melihat kuburan tersebut sangat membekas dalam diri Sitor, dan tidak dapat segera dilupakan. Ia kemudian mengekspresikan pengalaman itu dalam puisi sebarisnya yang telah menghebohkan banyak orang itu. Tidak dijelaskan, apakah peristiwa itu dialaminya pada malam lebaran atau malam-malam yang lain, tidak pula dijelaskan apakah malam itu dia melihat bulan.

@@@@

Entah, setiap kali menjelang lebaran, saya selalu diingatkan lirik Sitor Situmorang dalam puisinya “Malam Lebaran”. Puisinya hanya terdiri atas satu larik: “Bulan di atas kuburan”. Meski pendek, puisi ini menawarkan kandungan makna yang “liar” sekaligus juga imajinatif.

Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Meski demikian, saya tak ingin membedahnya dari sisi stylistika. Saya justru lebih tertarik untuk menelaahnya dari aspek muatan isi yang saya anggap “liar” dan imajinatif itu. Saya juga tak menggunakan pendekatan atau teori sastra tertentu, tetapi lebih pada upaya penafsiran dan pemaknaan dari sudut pandang pribadi saya sebagai seorang penikmat dan pencinta puisi yang ingin saya kaitkan dengan momentum lebaran yang sebentar lagi akan datang menjenguk kita.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, larik pendek itu tak bisa dipisahkan dari judulnya. Secara sederhana, puisi tersebut bisa kita parafrasekan menjadi : //Pada malam lebaran, ada rembulan di atas kuburan//.

Ya, ya, ya. Dalam penafsiran awam saya, setidaknya ada tiga frasa dan kata kunci yang hendak ditekankan oleh penyair kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu, yakni “malam lebaran”, “rembulan”, dan “di atas kuburan”. Dari sisi logika, larik puisi ini jelas absurd, mustahil, dan tak masuk akal. Rembulan tak mungkin muncul pada malam lebaran, bukan? Namun, sesungguhnya larik tersebut tak bisa hanya sebatas kita maknai secara harfiah. Ada nilai-nilai kehidupan yang serba kontradiktif yang hendak didedahkan sang penyair.

Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa. Hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat “pembebasan” itu. Semua orang, apa pun pangkat dan kedudukannya, baju politik warna apa pun yang dipakai, atau status sosial keseharian apa pun yang disandangnya, (nyaris) semuanya tak melewatkan momentum yang sarat berkah dan maghfirah itu. Tak salah kalau Sitor Situmorang menggunakan kata simbolik “bulan” sebagai ikon kebahagiaan dan kemeriahan.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu. Mereka tak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan “memaksa” mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam “kamus” hidupnya. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu; tak ubahnya menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Tak salah juga kalau Sitor Situmorang menggunakan frasa “di atas kuburan”.

Begitulah, idealnya lebaran juga perlu dijadikan sebagai momentum untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Konon, di balik kekayaan dan penghasilan yang kita miliki ada hak juga bagi fakir miskin dan anak-anak telantar. Bahkan, mereka yang suka mengemplang dan mencuri harta rakyat dan negara, lebaran perlu dimaknai sebagai momentum pertobatan untuk mengembalikan kekayaan yang mereka peroleh secara tidak sah kepada negara, tanpa harus menunggu diserbu KPK. Cara semacam ini akan lebih terhormat daripada dipaksa harus memakai seragam koruptor versi KPK.

Bisa jadi, penafirsan “selengekan” semacam ini jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang. Namun, sebagai genre sastra, puisi yang multitafsir bisa dimaknai secara personal oleh apresiannya. Sampeyan memiliki penafsiran yang berbeda? **

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar